Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sakralnya Roti Buaya dalam Budaya Betawi

Muhamad Rizky , Jurnalis-Sabtu, 07 Juli 2018 |09:01 WIB
Sakralnya Roti Buaya dalam Budaya Betawi
(Foto: Istimewa)
A
A
A

...Eh jangan menangis aje, Bulan Syawal mau dikawinin...

Penggalan lagu milik Benyamin Sueb itu rasanya tengah dialami Zulfan (30) yang akan nikah dalam waktu dekat ini. Dirinya pun terus berselancar lewat gadget untuk mencari informasi penjual roti buaya lantaran sang calon istri asli Betawi. Akhirnya dia menemukannya di sebuah akun media sosial dan langsung diorder. Selang beberapa jam, dua roti buaya sudah di antar ke rumahnya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Zulfan membutuhkan roti buaya saat itu untuk sebuah hajatan. Dia ingin melamar gadis pujaan hatinya yang bermukim di Ciputat, Tangerang Selatan. Roti buaya dibawa sebagai seserahan bersama beberapa parsel untuk keluarga calon istri.

“Ini bagian adat Betawi,” katanya pekan lalu. “Kata orang, roti buaya simbol kesetiaan,” sambung pemuda itu.

Dalam kebudayaan Betawi, roti buaya menjadi elemen penting yang sering dijadikan seserahan dalam acara nikahan maupun lamaran. Tanpa roti buaya acaranya serasa kurang afdal.

Disebut roti buaya karena memang bentuknya berbentuk buaya. Sebenarnya dia hanya roti biasa yang terbuat dari adonan tepung terigu, gula pasir, mentega, telur, garam, susu, fermipan dan baking powder lalu dibentuk mirip buaya. Kemudian dipanggang.

"Buat saya enggak ada kesulitan, Alhamdulillah,” kata Ernawati (68), pembuat roti buaya saat ditemui di kediamannya Jalan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan.

Ernawati sudah bergelut dengan roti buaya sejak 1987 dan dia bangga bisa melestarikan budaya leluhur. Menurutnya permintaan roti buaya sangat tergantung acara hajatan. Dia rata-rata sebulan bisa menerima orderan hingga 10 pasang roti buaya. Harganya tergantung ukuran bahkan bisa sampai Rp450 ribu sepasang.

Erna mengaku pernah membuat 382 roti buaya untuk acara HUT DKI Jakarta. Dia juga sering ikut lomba buat roti buaya dan karena keahliannya itu, Erna pun sering diundang ke berbagai daerah untuk berbagi ilmu membuat roti buaya. Dari usaha roti buaya dia bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan sembilan anaknya.

Kenapa harus buaya?

Yahya Andi Saputra, Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi mengatakan bahwa para leluhur Betawi menganggap buaya hewan siluman yang menjaga sumber mata air untuk keberlangsungan kehidupan dan lambang kesetiaan.

Dalam kepercayaannya itu masyarakat Betawi melengkapinya dengan cerita rakyat seperti kisah siluman buaya putih, siluman buaya merah, atau siluman buaya buntung yang sewaktu-waktu muncul di sungai sebagai “penunggu”.

Sebagian orang percaya bahwa di sungai yang ada “pengunggu” tak boleh melakukan hal sembarangan karena bisa terkena musibah. Karena dianggap sebagai hewan penting bagi kehidupan manusia, maka dijadikan sahabat alam yang tak boleh diganggu habitatnya.

"Nah karena dia adalah penjaga sumber kehidupan, maka pemahaman itu dijadikan simbol oleh leluhur Betawi, dijadikan salah satu serah-serahan wajib zaman dulu dalam pernikahan,” kata Yahya.

“Karena orang kawin itu bukan semata-mata melampiaskan hawa nafsu, tapi bagaimana melanjutkan kehidupan ini. Maka dia kawin, dia berproduksi melahirkan anak, cucu, dan melanjutkan kehidupan," lanjut sejarawan Betawi itu.

Roti buaya dulu dan kini

Zaman dulu roti buaya yang dibawa dalam seserahan tidak dimakan atau dipotong untuk dibagi-bagi kepada tamu undangan, melainkan hanya jadi pajangan atau simbol pernikahan saja. Kala itu, seserahan dibawa bukan berbentuk roti, tapi replika buaya yang terbuat dari daun kelapa atau kayu.

"Simbol buaya itu dulu terbuat dari kraras, kraras itu daun kelapa dibuat dianyam menyerupai buaya, kadang dibikin dari model kayu dua-duanya untuk persembahan pernikahan,” ujar Yahya.

Sejak masa VOC atau serikat dagang Hindia Belanda menguasai Batavia (Jakarta sekarang), perlahan tapi pasti, replika buaya yang dibawa sebagai seserahan mulai berganti ke roti yang bentuknya dibuat mirip buaya.

Namun, tetap dijadikan sebagai pajangan saja, sebab saat itu tekstur roti buaya dibuat keras dan tidak memiliki rasa.

Yahya menuturkan seiring dengan membuminya pemahaman Islam dan mengubah pola pikir masyarakat, roti buaya pun mulai dibuat dengan tekstur yang lembut dan diberi rasa, agar bisa dimakan dan tidak mubazir.

(Angkasa Yudhistira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement