Kedua, sambungnya, adalah faktor keseimbangan politik dalam kerangka membangun titik temu dan konsensus politik antara kekuatan politik nasionalis dan kekuatan politik Islam.
"Ketiga, tantangan membangun praktik good governance (tata kelola kepemimpinan yang baik) dengan kemampuan membangun pola kerjasama antara pusat dan daerah, mampu menjaga harmonisasi antara eksekutif dan legislatif serta memiliki jejak langkah yang jelas dalam membangun komunikasi dan mendorong partisipasi dengan kelompok CSO," terangnya.
Dari tiga kriteria tersebut, sosok Airlangga Hartarto dinilainya cocok untuk mendampingi Jokowi. "Dia adalah kombinasi dari teknokrat-politisi. Sebagai seorang politisi partai Golkar dan Menteri Perindustrian," ujar Airlangga Pribadi.

"Airlangga adalah figur yang tahu bagaimana membangun keseimbangan bandul politik sekaligus memahami problem-problem ekonomi yang menjadi tantanan Indonesia ke depan," imbuhnya.