nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Inggris Divonis Penjara Seumur Hidup di UEA Atas Tuduhan Mata-Mata

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 22 November 2018 14:09 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 22 18 1981187 mahasiswa-inggris-divonis-penjara-seumur-hidup-di-uea-atas-tuduhan-mata-mata-D6RFP7fUaz.jpg Mahasiswa Inggris, Matthew Hedges dan istrinya, Daniela Tejada. (Foto: AFP)

DUBAI – Pengadilan Uni Emirat Arab (UEA) telah menjatuhkan vonis penjara seumur hidup terhadap mahasiswa Inggris, Matthew atas tuduhan mata-mata pada Rabu. Putusan hukuman sumur itu telah memicu keterktejutan dari Inggris

Matthew Hedge, seorang mahasiswa berusia 31 tahun telah menyatakan dirinya tidak bersalah sejak dia ditangkap tiba di Bandara Dubai pada 5 Mei. Dia tidak tampak di persidangan saat putusan vonis dibacakan.

Kami dapat mengonfirmasi bahwa dia dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara, "kata seorang juru bicara keluarga sebagaimana dilansir AFP, Kamis (22/11/2018).

"Persidangan berlangsung kurang dari lima menit, dan pengacaranya tidak hadir."

Hedges meneliti mengenai kebijakan keamanan dalam dan luar negeri UEA pasca revolusi Arab Spring 2011 yang menurut Inggris sama sekali tidak berbahaya. Namun, UEA menilai penelitian Hedges tersebut mengancam keamanan politik dan ekonomi.

Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt mengungkapkan keterkejutan dan kekecewaan mereka terhadap putusan tersebut. Mereka menyatakan akan membawa masalah ini ke tingkat tertinggi pemerintahan UEA, dan akan berdampak pada hubungan kedua negara.

"Putusan hari ini bukanlah apa yang kami harapkan dari seorang teman dan mitra terpercaya Kerajaan Inggris dan bertentangan dengan jaminan yang diberikan sebelumnya," kata Hunt.

"Penanganan kasus ini ... akan berakibat pada hubungan antara kedua negara, yang harus dibangun berdasarkan kepercayaan. Saya menyesalkan fakta bahwa kami telah mencapai posisi ini dan saya mendesak UEA untuk mempertimbangkannya kembali," tambah Hunt.

Kasus ini muncul di saat hubungan Inggris dan UEA tengah diuji terkait keterlibatan Abu Dhabi dalam konflik di Yaman bersama koalisi pimpinan Arab Saudi.

UEA menurunkan pasukan darat, pelatih, dan penasihatnya di samping pasukan pemerintah Yaman yang bergerak maju di pelabuhan Hodeidah, sebuah langkah yang telah memicu seruan agar Inggris menghentikan atau membatasi penjualan senjata besar dalam jumlah besar ke UEA.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini