Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Inilah Mbah Parno, Sosok Penting di Balik Berdirinya Masjid Istiqlal

Amril Amarullah , Jurnalis-Jum'at, 04 Januari 2019 |14:20 WIB
Inilah Mbah Parno, Sosok Penting di Balik Berdirinya Masjid Istiqlal
Suparno alias Mbah Parno di Masjid Istiqlal (Humas Kemenag)
A
A
A

JAKARTA - Hari Amal Bhakti (HAB) ke-73 Kementerian Agama 2019 memberi warna dalam hidup Suparno (90) alias Mbah Parno. Kakek yang hingga kini masih aktif berkhidmah di Masjid Istiqlal ini mendapat berkah berupa sebuah rumah.

Bantuan rumah ini diberikan oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Ngobras atau Ngobrol Santai bareng Menteri Agama. Acara yang merupakan rangkaian peringatan HAB ini berlangsung di Gedung Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat 4 Januari 2018. Hadir dalam kesempatan ini ratusan keluarga besar ASN Kementerian Agama.

“Semoga membawa berkah dan manfaat. Ini ada bantuan dari ASN Kementerian Agama,” kata Menag sembari menyerahkan secara simbolik voucher bertuliskan “Bantuan Rumah untuk Mbah Suparno, Pelayan Friedrich Silaban (Arsitek Masjid Istiqlal)”.

Lantas siapakah Mbah Parno?

Melansir dari situs resmi Kemenag, Mbah Suparno, salah satu saksi hidup sejarah pendirian Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara.

Mbah Parno lahir di Desa Kalimati, Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah pada 1928. Tahun 1951, dia merantau ke Ibu Kota sebagai kuli bangunan. Pada 24 Agustus 1952, bertepatan dengan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Presiden Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Istiqlal. Mandor yang diikuti Mbah Parno ikut dalam pembangunan masjid tersebut. Di sinilah, Suparno yang kala itu berusia 24, bertemu dengan Arsitek Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban, seorang Batak yang beragama Kristen (Protestan).

Kala itu, pekerjaan Suparno adalah kuli bangunan, sembari juga mencari tenaga-tenaga untuk pembangunan Masjid. “Waktu itu, masih sepi Mas. Saya jalan kaki muter-muter mencari orang untuk kerja proyek di Masjid ini. Para tukang becak saya tawari. Saat itu, kita dibayar Rp15 seharinya,” cerita Mbah Parno, saat ditemui di Ruang Unit Fasilitas Ibadah, sebelah Barat laut ruang utama Masjid.

Mbah Parno menceritakan, Masjid Istiqlal berdiri di atas tanah seluas sembilan hektar. Lima hektar di antaranya untuk masjid, sisanya dibuat taman, parkir dan lain sebagainya.

“Waktu itu, Pak Soekarno memerintahkan Pak Silaban yang juga dosen UI di Salemba bagian Arsitek, untuk membuat tiga gambar. Masjid ini, Monas dan Stadion Utama Senayan. Nah, begitu Pak Silaban diturunkan di sini, saya yang disuruh melayani. Ya cetak gambar, makannya apa, minumnya apa, itu semua saya yang ngurusi,” kenang Mbah Parno

Mbah Parno meyakinkan, awalnya, dirinya memang bekerja sebagai kuli bangunan. Suparno yang cekatan, menyita perhatian Silaban, karena setiap disuruh, Suparno tidak pernah mengecewakan.

“Pak Silaban suka dengan kerja saya. Karena setiap disuruh, saya langsung berangkat dan setiap ditanya, selalu saya katakan, sudah saya laksanakan dan beres, Pak,” tuturnya.

Pelan namun pasti, Suparno beralih profesi, dari kuli bangunan, menjadi tukang membuatkan teh, kopi, dan menyiapkan makanan Silaban yang menggemari ikan mentah. Selama bekerja membangun Masjid Istiqlal, Silaban “hanya” mau dilayani oleh Suparno dalam hal teknis seperti mengantar surat, mengecek barang, serta membuatkan kopi, minuman, dan makanan. Diterangkan Mbah Parno, belum pernah sekalipun Silaban marah padanya.

Setelah Masjid berdiri dan siap digunakan, Suparno diangkat menjadi pegawai Istiqlal. Tugas utamanya adalah mengantar surat. Uniknya, lelaki yang memiliki lima anak ini selalu jalan kaki dalam mengantar surat, terutama saat mengantar ke alamat yang dekat dengan Istiqlal, misalnya: Kemenkeu, Istana, Kemendagri, Kemenag, dan lainnya.

Hingga kini, kakek dua cucu ini, setiap berangkat ke Istiqlal, juga masih suka jalan kaki. Jarak antara kontrakan Mbah Parno yang berada di Jalan Garuda Gang Mangga Kemayoran dengan Masjid Istiqlal lebih kurang 2 KM, tidak menghalanginya untuk selalu jalan kaki.

Pada 2005, Mbah Parno dipindahtugaskan dari mengantar surat, menjadi penjaga sepatu/sandal jamaah. Sejak Mei 2016, Mbah Parno dipercaya masuk Bidang Takmir Bagian Tim Fasilitas Ibadah. Tugasnya adalah ngopyak-ngopyak atau menyuruh para jamaah untuk merapatkan dan meluruskan shaf (barisan) saat shalat jamaah Dhuhur dan Ashar.

Selepas Ashar, Mbah Parno kembali ke kontrakan. Pekerjaan yang seperti itu dilakukan tiap Senin hingga Jumat.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement