Bawa Replika Bom Molotov, Puluhan Orang Desak Pengusutan Teror ke Pimpinan KPK

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 16 Januari 2019 17:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 16 519 2005336 bawa-replika-bom-molotov-puluhan-orang-desak-pengusutan-teror-ke-pimpinan-kpk-wHdLgFoNOE.jpg Massa di Kota Malang dukung pengusutan teror pimpinan KPK. (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

KOTA MALANG – Pascateror bom molotov ke dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dukungan terus mengalir dari beberapa elemen masyarakat. Di Kota Malang, puluhan orang dari Malang Corruption Watch (MCW) melakukan aksi kecaman sekaligus memberi dukungan kepada dua pimpinan KPK yakni Agus Rahardjo dan Laode M Syarif yang menjadi target teror bom molotov.

Dengan membawa sejumlah poster tuntutan dan topeng berwajah Agus Rahardjo dan Laode M Syarif, massa menggelar aksi di depan Balai Kota Malang, kawasan Bundaran Tugu. Uniknya massa yang menggunakan topeng berwajah mirip Agus Rahardjo dan Laode M Syarif juga membawa replika bom molotov.

(Baca juga: Polri Temukan 'Petunjuk Menarik' Terkait Teror Bom di Rumah Pimpinan KPK)

Simbol ini sebagai upaya tidak adanya rasa takut kepada siapa pun dalam upaya pemberantasan korupsi. Selain itu, aksi tersebut juga wujud dukungan moriil kepada KPK oleh masyarakat Kota Malang.

"Teror bom terhadap Ketua KPK Agus Rahardjo di rumahnya pada 9 Januari 2019, disusul teror lainnya kepada Wakil Pimpinan KPK Laode M Syarif, harus dimaknai sebagai bentuk kejahatan terhadap upaya menghalangi pemberantasan korupsi," ungkap Koordinator MCW Fahruddin di sela-sela aksi, Rabu (16/1/2019).

Ia meminta teror terhadap pejuang antikorupsi dan KPK harus dilihat sebagai persoalan serius oleh pemerintahan dan aparat kepolisian.

(Baca juga: Polisi Buat Sketsa Wajah Buru Peneror Rumah Pimpinan KPK)

"Bentuk perlawanan terhadap pemberantasan korupsi tidak boleh mengurangi atau bahkan menghilangkan semangat dan keberanian untuk memperjuangkan narasi-narasi pemberantasan korupsi," lanjut Fahruddin.

Menurut dia, korupsi sampai kapan pun dan di mana pun harus diperangi, karena telah merusak tatanan yang ada, mulai sosial, budaya, ekonomi, hukum, hingga politik.

(han)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini