MANADO - Gunung Soputan yang terletak di Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara, merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di Indonesia. Gunung dengan ketinggian 1.784 M dari permukaan laut ini terakhir kali meletus pada 16 Desember 2018 dengan mengeluarkan kolom abu letusan setinggi 7.500 meter di atas puncak gunung.
Ini bukanlah kali pertama Gunung Soputan meletus. Sebelumnya gunung ini sudah pernah beberapa kali meletus dengan periode letusan yang terpanjang 45 tahun dan yang terpendek 1 tahun dengan sifat letusan umumnya terjadi beberapa kali dengan selang waktu antara beberapa minggu hingga beberapa bulan seperti yang terjadi pada 1908, 1913, 1915, 1923, 1982 dan 1984, 2000, 2008, 2014, 2015 dan 2018.
Letusan yang pertama terjadi pada tahun 1785, setelah itu Soputan beberapa kali meletus. Letusan yang terdahsyat terjadi pada 1966 dan 1982. Tidak banyak catatan yang bisa didapat terkait letusan pada 1966, namun ketebalan abu vulkanis sekira 10 sentimeter pada waktu itu membuat masyarakat di sekitar kaki Gunung Soputan terpaksa mengungsi.
Letusan tak kalah hebatnya terjadi pada tahun 1982, Saat itu abu vulkanik yang disemburkan Gunung Soputan menutupi sekitar wilayah Minahasa Tenggara hingga sampai ke Kota Manado. Bahkan, ketebalan abu vulkanik yang menutupi pemukiman penduduk mencapai 30 sentimeter.
"Berdasarkan sejarah dan informasi dari masyarakat terdahulu di daerah Silian atau Tombatu bahwa pernah terjadi letusan besar itu sebelum ada Pos Pemantauan terjadi tahun 1966 dan 1982, yang mana daerah Silian dengan ketebalan abu, kerikil dan pasir mencapai ketebalan kurang lebih 30-50 cm," ujar Kepala Pos Pemantau Gunung Api Soputan, Asep Saifullah kepada Okezone.
Aktifitas Gunung Soputan sejak tiga tahun belakangan, cenderung fluktuatif, naik turun baik dari segi kegempaan ataupun status. Ketika terjadi peningkatan status ke level III siaga menandakan telah terjadi 8 kali letusan. Namun, letusan Gunung Soputan yang bisa mengakibatkan tsunami tidak ada atau belum pernah terjadi mengingat letaknya yang jauh dari laut.
Warga di Sekitar Gunung Api Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara (foto: Subhan Sabu/Okezone)
"Kami selalu mengimbau kepada masyarakat, pengunjung maupun pendaki baik dalam kondisi waspada atau siaga harus berhati-hati jangan beraktifitas di radius yang sudah ditentukan PVMBG /Badan geologi Bandung, guna antisipasi ancaman lain dari Soputan selain letusan," jelas Asep.
Ketersediaan alat pemantau gunung berapi menurut Asep sudah sangat memadai, baik analog ataupun digital serta monitoring deformasi yang dimiliki oleh pos pengamatan Gunung Api Soputan yang berada di Desa Silian 3, Kecamatan Silian Raya, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulut.
"Untuk teknologi lain kami kurang tahu, hanya kantor pusat/PVMBG yang tahu terkait teknologi baru untuk pemantauan," kata Asep.
Gunung Soputan merupakan salah satu dari 8 gunung api aktif yang berada di Sulawesi Utara. Di Pulau Sulawesi, ada 9 gunung api aktif, 8 di antaranya berada di Sulawesi Utara, yakni Gunung Awu, Gunung Ruang, Gunung Karangetang, Gunung Tangkoko, Gunung Mahawu, Gunung Lokon, Gunung Soputan dan Gunung Ambang.
Ini membuat ancaman bencana geologi seperti seperti gempa bumi dan gunung meletus di Sulawesi Utara patut diwaspadai akibat adanya 8 gunung api aktif tersebut. Apalagi sampai saat ini 2 di antara 8 gunung tersebut yakni Gunung Karangetang dan Gunung Soputan masih terus menunjukkan aktifitasnya.
Kedua gunung tersebut, sampai saat ini masih berstatus siaga level III. Keduanya perlu diwaspadai karena dari 4 gunung di Indonesia yang berstatus siaga level III, yakni Gunung Agung di Bali, Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro dan Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara.
"Secara nasional, ada empat gunung yang berstatus level III siaga, dan duanya ada di Sulawesi Utara, satu Karangetang, satu Soputan, kedua gunung itu patut diwaspadai dan menjadi ancaman bencana geologi di tahun 2019 karena statusnya belum turun, sampai saat ini pun masih level III siaga," ujar Kasub perencanaan keuangan dan data informasi BPBD Sulut, Edwin Monding.
Kondisi Pos Pemantau Gunung Api Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara (foto: Subhan Sabu/Okezone)
Menurut Edwin, Sulut merupakan wilayah yang rawan terjadi gempa bumi karena adanya pertemuan dua lempeng, lempeng eurasia yang memanjang dari bagian Sulut ke Kalimantan dan lempeng pasifik di Maluku Utara.
Pertemuan antara kedua lempeng tersebut menjadi pemicu gempa, setiap kali kedua lempeng ini bergerak, terjadi gempa bumi. Oleh karena itu semua wilayah di Sulut berpotensi terjadi bencana gempa bumi akibat pertemuan kedua lempeng tersebut yang berada di antara laut Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
"Kami punya dua sirine tsunami, satu di Kota Bitung satu lagi di Manado, kami juga punya alat peringatan dini tsunami. Setiap tanggal 26 alat tersebut pasti berbunyi sebagai tes kalau alat itu masih berfungsi dengan baik atau tidak," jelas Edwin
Selain itu juga lanjut Edwin, BPBD terus melakukan upaya pengurangan resiko bencana dengan mempersiapkan masyarakat lewat sosialisasi dan edukasi ke anak sekolah, daerah-daerah bencana, kelompok rentan apabila terjadi bencana minimal mampu menyelamatkan diri sendiri pada saat terjadi bencana.
"Malah sekarang kita lagi menyusun sistem informasi, daerah-daerah rawan bencana itu menyusunnya agar supaya masyarakat tau bahwa kita berada di daerah mana," kata Edwin.
Selama menanggulangi bencana, BPBD Sulut tidak menemui hambatan yang berarti di lapangan karena semua stakeholder terlibat di dalamnya ikut membantu, bukan hanya BPBD saja yang turun, semua stakeholder sudah tahu peran masing-masing dan semua fungsi koordinasi jalan. Yang menjadi hambatan justru datang dari segi SDM dan peralatan.
"Kita kurang dari segi SDM, makanya kita sering melakukan pelatihan-pelatihan, namun yang terutama itu dsri segi peralatana," kata Edwin.
Peralatan menurut Edwin perlu investasi yang besar walaupun dari BPBD terus berupaya menambah peralatan, namun peralatan jadi kendala utama terutama peralatan penyelamatan dan evakuasi salah satunya perahu karet. Untuk alat berat seperti eskavator BPBD Sulut bekerjasama dengan dunia usaha perusahaan-perusahaan yang memilikinya namun ada baiknya jika BPBD punya peralatan sendiri agar lebih cepat menangi bencana tanpa perlu menunggu bantuan alat.
"Logistik juga kita perlu, terutama kebutuhan-kebutuhan dasar, apabila ada pengungsian kita perlu tenda dan kasur, itu yang masih kurang juga," tambah Edwin.
Kondisi Pos Pemantau Gunung Api Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara (foto: Subhan Sabu/Okezone)
Edwin juga merasa perlu belajar ke negara terkait penangannan bencana seperti Jepang. Dari segi manajemen perlu belajar dari jepang karena mereka juga mirip dengan indonesia, rawan gempa bumi dan gunung meletus. Yang perlu dipelajari juga dari Jepang lebih kepada pengurangan resiko bencana, yang ditingkatkan adalah early warning sistemnya.
"kita kalah disitu, teknologi kita kalah dengan mereka selain itu juga kita belum menjadikan bencana itu sebagai suatu pendidikan. Kita juga sudah melakukan itu tapi belum terlalu menggigit seperti di jepang selain itu juga pembiayaan untuk bencana itu masih kurang.
Dari segi anggaran bencana di BPBD Sulut menurut Edwin sudah cukup memadai, yang menjadi kendala ada di BPBD Kabupaten Kota yang anggarannya dari APBD Kabupaten Kota tersebut. Anggaran yang di berikan sekitar 250 juta untuk penanggulangan bencana tentu sangat tidak mencukupi.
Kalau anggaran diberikan di atas Rp5 miliar menurut Edwin sudah cukup bagus sehingga BPBD Kabupaten Kota bisa berkreasi, karena selama ini anggaran menjadi permasalahan tersendiri, BPBD Kabuaten Kota tidak bisa berkreasi lebih terutama memberikan edukasi kepada masyarakat akibat minimnya anggaran.
"Selama ini kalau ada bencana, BPBD provinsi yang seharusnya membackup malah jadi yang paling depan dalam penanganan karena minimnya logistik yang ada di kabupaten Kota akibat dari minimnya anggaran yang diberikan," pungkas Edwin.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.