nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berada di Urutan 4 dunia, Pemerintah Gencar Berantas Stunting

Taufik Budi, Jurnalis · Senin 21 Januari 2019 21:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 21 512 2007532 berada-di-urutan-4-dunia-pemerintah-gencar-berantas-stunting-mOVDC8Dh2I.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

KEDIRI – Pemerintah memasukkan penurunan stunting menjadi target program kerja pemerintah tahun 2015-2019. Hal itu dilakukan, karena pemerintah paham tentang ancaman stunting.

Indonesia diperkirakan pada 2030 akan mengalami bonus demografi. Di mana, angka produktif (15-64 tahun) manusia diprediksi mencapai 68 persen dari total populasi dan angkatan tua (65 tahun) sekira 9 persen. Sehingga stunting menjadi ancaman serius.

"Stunting menjadi prioritas. Kami membantu mendiseminasi informasi dan mengkoordinasikan, karena penanganan stunting ini kan tidak tunggal. Tidak hanya urusan Kementerian Kesehatan," ujar Wiryanta, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Senin (21/12019).

(Baca Juga: Anies Ungkap 27 Persen Anak Jakarta Alami Stunting)

Namun, ini menyangkut masalah sosial, sehingga semua harus bergotong-royong untuk menyelesaikannya. Kementrian Kesehatan dan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo RI, serta kementerian terkait lainnya gencar melakukan sosialisasi.

sosialisasi pencegahan stunting

Menurutnya, sosialisasi dilakukan baik melalui media maupun terjun langsung untuk bertatap muka dengan masyarakat. Stunting memang masih asing di telinga, namun ia menekankan agar masyarakat tak boleh abai.

Sosialisasi telah dilakukan di beberapa daerah, khususnya Jawa Timur, seperti Kediri. Bersama dr. Prima Hari Nastiti, praktisi kesehatan, pemahaman tentang perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah stunting disampaikan ke masyarakat.

Nasiti menuturkan, Indonesia menempati urutan ke 4 dunia untuk penderita stunting di bawah India dan Pakistan. Artinya, Indonesia menyumbang 9 juta anak penderita stunting dari 159 juta anak di dunia.

“Budaya yang penting kenyang, sementara nutrisi belum tentu tepat masih belum disadari oleh orangtua, terutama masyarakat di desa. Anak berawakan pendek masih dianggap wajar, toh nanti akan tumbuh dengan sendirinya menurut mereka,” kata Prima.

(Baca Juga: Tekan Angka Stunting, Jokowi: 2019 Fokus Pembangunan SDM)

Ia pun mengimbau orangtua agar memantau proses tumbuh kembang anak di 1.000 hari pertama kehidupan. Salah satu kuncinya adalah dengan hidup bersih dan sehat.

Stunting merupakan gagal tumbuh anak akibat kekurangan gizi kronis menahun sejak awal kehamilan. Sehingga tinggi mereka akan tidak seperti anak seusianya, dan perkembangan otak anak dengan IQ yang cenderung kurang.

“Pertumbuhan tulang di 2 tahun pertama mempengaruhi pertumbuhan anak. Gizi harus diberikan secara seimbang. Dengan menurunkan prevalence dari stunting ini akan mampu menyiapkan generasi bangsa yang siap untuk bersaing di dunia internasional," tuturnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini