nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gempa Mentawai 6,0 SR, ESDM: Energinya Tidak Cukup Kuat untuk Memicu Tsunami

Rus Akbar, Jurnalis · Sabtu 02 Februari 2019 21:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 02 340 2013042 gempa-mentawai-6-0-sr-esdm-energinya-tidak-cukup-kuat-untuk-memicu-tsunami-OdyCFCWEGV.jpg Ilustrasi Gempabumi (foto: Shutterstock)

PADANG-Gempa yang terjadi berturut-turut di Kepulauan di Samudera Indonesia di perairan barat Daya Pulau Pagai Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat mendapat tanggapan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (PVMBG) – KESDM, gempa yang terjadi sore tadi tidak kuat untuk memicu tsunami, Sabtu (2/2/2018).

Surat tanggapan tersebut menjelaskan gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 2 Februari 2019, pukul 16:27 WIB dimana informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,84° BT dan 3,03° LS, dengan magnitudo M 6,0 pada kedalaman 17 kilometer dengan 117 kilometer tenggara Kepulauan Mentawai.

(Baca Juga: Gempa Mentawai, BMKG: Itu Merupakan Gempa Bumi Dangkal) 

Geo Forschungs Zentrum (GFZ) Jerman melalui GEOFON program menginformasikan gempa bumi berpusat di koordinat 100,09° BT dan 2,87° LS dengan kekuatan 6,0 Mw dan kedalaman 10 km. Sedangkan The United States Geological Survey (USGS), Amerika, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 100,7021° BT dan 2,860° LS, dengan magnitudo M 6,1 pada kedalaman 10 km.

 

Sebelumnya pada pukul 16:03 WIB, telah terjadi gempa bumi di lokasi yang berdekatan, dengan kekuatan M 5,3 (BMKG). Kemudian, terdapat juga gempa bumi susulan pada pukul 16:58 dengan kekuatan M 5,2.

Jika melihat kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi di perairan barat daya Pulau Pagai Utara tersebut, dari tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera.

Kondisi geologi di sekitar pusat gempa bumi, pada umumnya tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, batuan sedimen berumur tersier serta batuan pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, serta mekanisme fokal sumber gempa bumi yang berupa sesar naik (GFZ), kejadian gempa bumi ini berasosiasi dengan aktifitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut.

Gempa yang terjadi sore tadi tidak hanya dirasakan di Mentawai saja, berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan Gunung Marapi di Bukittinggi, guncangan gempa juga dirasakan di lokasi tersebut dengan intensitas III MMI (Modified mercalli Intensity).

BMKG melaporkan bahwa guncangan gempa bumi dirasakan di Kota Padang, Pariaman dan Painan dengan intensitas III-IV MMI, serta di Padang Panjang, Bukittinggi dan Solok dengan intensitas II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami.

(Baca Juga: Sejak Sore, BMKG Mencatat 45 Kali Gempa Susulan di Bengkulu dan Mentawai) 

Bagi masyarakat yang tinggal dekat lokasi gempa diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

Informasi terakhir yang di peroleh Okezone dari Camat Sikakap Fransiskus Sakeletuk, gempa yang terjadi sore tadi sebagian warga memilih untuk mendekati perbukitan. Masyarakat yang ada didekat pantai memilih untuk menginap ke rumah saudaranya yang dekat dengan bukit, sementara warga lain bertahan di rumah namun di teras rumah sambil membentangkan tikar.

“Tidak apa-apa biar masyarakat kita tenang dan kita akan tetap melakukan monitor, perlu diingatkan kalau mau menginap sama saudaranya jangan lupa, pakaian, logistik selama menginap. Kita tidak bisa melarang yang penting masyarakat tetap waspada,” tuturnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini