SYDNEY - Seorang pengungsi yang ditahan di rumah penahanan di wilayah terpencil Pasifik telah memenangkan penghargaan tertinggi sastra Australia dan mendapatkan hadiah sebesar AUS100 ribu atau setara Rp1 miliar.
Behrouz Boochani, seorang warga Iran yang ditahan di sebuah kamp yang dikelola Australia di sebuah pulau Papua Nugini, memenangkan penghargaan sastra Victorian lewat bukunya yang berjudul "No Friends but the Mountains” (Tidak Ada Teman kecuali Gunung).
Boochani menulis bukunya dengan ponsel dan dikirim melalui WhatsApp per bab.
Ia ditahan di Kamp Pulau Manus setelah dievakuasi dari kapal pengungsi dalam perjalanan ke Australia enam tahun lalu. Boochani berharap hadiah itu bisa mendapatkan perhatian pada nasib lebih dari 1.000 orang di luar Pantai Australia.
"Saya tidak ingin merayakan pencapaian ini sementara saya masih melihat banyak orang tak berdosa menderita di sekitar saya," kata Boochani.
Australia's system of torture and death has multiple sites onshore and offshore. Sadly, another victim in Villawood, Sydney today. For how many years do you want to kill people in this way?
— Behrouz Boochani (@BehrouzBoochani) 25 Januari 2019
Boochani telah menjadi kritikus terkemuka terhadap perlakuan terhadap orang-orang di bawah kebijakan imigrasi garis keras Australia.
Baca: Gelombang Panas Ekstrem yang Landa Australia Sebabkan Jutaan Ikan Mati
Para pencari suaka yang akan masuk ke Australia akan dikirim ke tiga kamp di PNG dan satu di pulau Pasifik Selatan, Nauru, tempat banyak orang mendekam selama bertahun-tahun. Mereka tidak diizinkan menjejakkan kaki di Australia.
Boochani mengatakan salah satu ketakutan terbesarnya ketika dia menulis buku itu adalah bahwa ponselnya akan disita oleh penjaga kamp.
"Saya khawatir jika mereka menyerang kamar saya, mereka akan mengambil properti saya," katanya.
Dia menulis buku itu dalam bahasa asalnya, Persia, dan mengirimkannya melalui layanan pesan WhatsApp ke seorang penerjemah di Australia.
Penghargaan tersebut diumumkan pada hari Kamis di acara di Australia, sebuah negara yang dilarang dikunjungi oleh Boochani.
"Ini sangat memalukan bagi pemerintah Australia," kata Boochani tentang kebijakan yang bertanggung jawab atas penderitaannya. (fzy)
(Hantoro)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.