JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) meminta politisi kubu pasangan capres Prabowo-Sandi menghentikan provokasi di media sosial (Medsos). Permintaan ini disampaikan juru bicara PSI bidang Teknologi Informasi, Sigit Widodo, Rabu (6/2/2019).
Menurut Sigit, belakangan ini politisi dari kubu pasangan capres 02 itu kerap melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial di media sosial sehingga memicu kegeraman publik. “Yang terakhir, puisi ‘Doa yang Ditukar’ cuitan Fadli Zon memicu kemarahan kelompok Nahdliyin karena diduga menyindir Kiai Maimoen Zubair,” kata Sigit.
Sebelum puisi Fadli Zon, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, juga sempat di-bully warganet karena mempersoallkan cucu Jokowi, Jan Ethes, dengan mencolek akun Bawaslu.
“Pada 26 Januari, Pak Hidayat Nur Wahid mencuitkan kekhawatiran keterlibatan Jan Ethes sebagai legitimasi pelibatan anak-anak pada kampanye. Di cuitan itu beliau jelas-jelas me-mention akun Bawaslu. Lucunya, setelah diserang warganet dan dijawab Pak Jokowi dalam kampanye di Surabaya, Pak Hidayat kemudian menuduh cuitannya dipelintir dan dimanipulasi. Ini kan tindakan yang sangat tidak gentle,” kata Sigit.

Masih menurut Sigit, politisi yang belakangan sangat sering melakukan provokasi di media sosial adalah wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief. “Akun twitter milik Andi Arief hampir setiap hari memprovokasi warganet dengan berita-berita bohong. Berita bohong ini disampaikan sebagai pertanyaan sehingga Andi kemudian bisa berkilah hanya bertanya. Ini pengecut sekali,” kata Sigit.