nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

14 Anak Penderita HIV dan AIDS Diusir dari Sekolah, Ini Reaksi Ganjar Pranowo

Bramantyo, Jurnalis · Kamis 14 Februari 2019 21:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 14 512 2018132 14-anak-penderita-hiv-dan-aids-diusir-dari-sekolah-ini-reaksi-ganjar-pranowo-t8IZSqqTSG.jpg Ilustrasi HIV dan AIDS (Foto: Istimewa)

SOLO - Nasib 14 anak usia Sekolah Dasar (SD) ditolak orangtua murid yang anaknya bersekolah di kota Solo mendapat perhatian orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dasar penolakan wali murid tersebut karena 14 anak tersebut diduga terkena HIV dan AIDS.

Kepada awak media, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sampaikan agar orangtua siswa yang anaknya ditolak dan dilarang masuk sekolah segera bertemu langsung dengan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo.

"Saya sarankan orangtua yang anaknya ditolak, segera bertemu Wali Kota pasti tidak akan ditolak. Dan nanti pasti akan diarahkan untuk solusinya. Karena Sekolah Dasar merupakan kewenangan daerah," jelas Ganjar, Kamis (14/2/2019).

Langkah lainnya ujar Ganjar coba memberikan penjelasan kepada orangtua siswa yang menolak. Bahwa seluruh wali murid dikumpulkan, dijelaskan dan diberi edukasi. Apakah itu penyakit HIV/AIDS, bagaimana cara penularannya.

Bisa jadi penolakan orang tua siswa yang menolak kehadiran anak yang diduga terkena HIV dan Aids karena mereka banyak yang tidak mengetahui. Sehingga perlu dijelaskan seperti apa dan bagaimana HIV dan AIDS itu.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Tak Sabar Dipanggil Bawaslu

HIV

Janganlah karena keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang penyakit HIV dan AIDS, maka terjadilah penolakan kuat dari masyarakat terhadap anak penderita HIV yang bersekolah di sekolah regular.

"Coba di ajag rembugan (sosualisasi), apa itu HIV dan Aids, bagaimana cara penularannya, termasuk bagaimana cara kita berkomunikasi dengan mereka. Mereka tidak butuh di-eksplore, mereka hanya butuh ditemani, diajarin," lanjut Ganjar.

Ditambahkan Ganjar, orangtua harus diberikan edukasi. Dan hal tersebut pastinya butuh pendekatan khusus agar nanti tidak ada lagi penolakan seperti yang terjadi saat ini. "Mereka anak-anak itu kan punya hak sekolah juga," pungkasnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Lettera tempat dimana ke 14 anak penderita HIV dan AIDS yang diusir dari sekolahan tersebut sangat menyesalkan kejadian tersebut.

Pasalnya, tidak hanya Wali Murid sendiri yang membuat surat pernyataan menolak ke-14 anak tersebut bersekolah di sekolah tersebut, tapi juga seluruh Komite hingga Kepala Sekolah juga membuat surat pernyataan menolak.

Sebenarnya penolakan ini sudah sampai ke Dinas Pendidikan, namun sudah seminggu lebih sejak pengusiran itu terjadi belum ada keputusan apapun.

"Sudah satu minggu anak-anak kami tidak sekolah. Wali murid, komite hingga Kepala Sekolah keberatan anak Lettera sekolah di sana. Ini tidak hanya sekali kami alami, anak-anak kami yang di PAUD dan TK juga diusir tak boleh sekolah," terang Yunus Prasetyo usai menerima kunjungan Ketua III MNC Peduli Jessica Tanoesoedibjo.

Baca Juga: Soal Pernyataan "Yang Gaji Kamu Siapa?", Bawaslu Belum Rencana Panggil Menteri Rudiantara

Yunus berharap, anak-anaknya bisa sekolah lagi. Dirinya tidak berharap anak-anaknya diberi guru dan belajar di sini. Dirinya menginginkan agar anak-anaknya itu bisa bersekolah di sekolah umum seperti yang lain, meskipun mereka menderita HIV dan AIDS.

"Kami ingin sekolah di sekolah formal, bukan di sekolah khusus. Biarkan anak-anak kami bersekolah di sekolah yang mereka suka. Bukan guru datang ketempat kami, bukan itu yang kami inginkan," kata Yunus.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini