YOGYAKARTA – Aksi vandalisme atau corat-coret yang dilakukan orang tidak bertanggung jawab kali ini menyasar relief Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Cat warna-warni telapak tangan menempel di dinding relief dan lantai yang ada di kompleks museum.
Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Suharjo mengatakan, aksi vandalisme ini diketahui pada Sabtu 16 Februari 2019. Saat itu petugas hendak melakukan pembersihan, namun justru menemukan cat yang menempel di dinding relief.
"Kejadian itu baru dilaporkan Senin, karena Sabtu dan Minggu hanya ada petugas satpam, tiket, dan pemandu. Tidak ada pegawai yang datang," kata Suharjo, Rabu (20/2/2019).
(Baca juga: Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta Jadi Sasaran Vandalisme)
Ia mengatakan, tempat ini sendiri jarang dipakai untuk kegiatan, terakhir pada 10 Februari. Meski jarang ada kegiatan, setiap hari lokasi selalu dibersihkan. Suharjo menuturkan, pada Jumat pagi belum ada coretan, dan bisa dipastikan terjadi pada malamnya atau Sabtu dini hari.
Suharjo mengatakan, lokasi relief yang menjadi sasaran aksi vandalisme ini berada di sisi dalam di belakang patung utama. Lokasi tersebut sebenarnya sudah dipasangi kamera CCTV, namun arahnya tidak di belakang panggung. Maka itu, untuk pengamanan ke depan akan ditambah jumlah kamera CCTV-nya.
"Kita akan tambah lagi dua atau tiga," ucap Suharjo.
(Baca juga: Vandalisme di Monumen Serangan 1 Maret, Petugas Sebut Ini yang Terparah)
Ia juga meminta masyarakat ikut menjaga Museum Benteng Vredeburg yang masuk bagian kebudayaan. Bangunan ini juga dilindungi dengan Undang-Undang 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Budaya. Merusak seperti vandalisme bisa dikenai ancaman pidana maksimal Rp10 miliar.
"Ke depan kita akan kooordinasi dengan kepolisian. Kalau sekarang cat yang di sana sudah diberishkan," ujar dia.
Selain museum, bangunan yang dilindungi termasuk gedung perpustakaan.
(Hantoro)