Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jelang Pilpres, BNPT Imbau Pengurus Masjid Pemerintah Jaga Kondusifitas

Achmad Fardiansyah , Jurnalis-Sabtu, 02 Maret 2019 |21:25 WIB
 Jelang Pilpres, BNPT Imbau Pengurus Masjid Pemerintah Jaga Kondusifitas
Foto: Okezone
A
A
A

JAKARTA - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjend Hamli mengatakan, tidak sedikit pelaku terorisme yang mendapatkan pemahaman menyimpang terkait agama setelah menghadiri ceramah di masjid-masjid tertentu.

Kata Hamli, banyak gerakan radikalisme yang dibangun oleh pelaku terorisme yang ke luar negeri, terutama yang pulang dari daerah konflik seperti Afganistan, Filipina, Suriah dan Iraq, lalu ketika pulang ke Indonesia melakukan penyebaran dan doktrin-doktrin radikalisme. Hal itulah yang menjadi latar belakang terjadinya bom bunuh diri dan terorisme.

“Orang-orang ini yang ketika pulang di Indonesia itulah yang berbahaya. Karena mereka membawa sesuatu, mereka membawa ideologi, networking, dan berbagai hal baik melalui online maupun offline,” kata Hamli di acara Focus Group Discussion (FGD) Forum Silaturrahmi Takmir Masjid Kementerian/Lembaga dan BUMN (FSTM), Sabtu (2/3/2019).

 s

Oleh karena itu, Hamli mengajak kepada seluruh peserta FGD yang merupakan kumpulan dari seluruh takmir masjid di kementerian/lembaga dan BUMN, agar bisa menyatukan takmir masjid pemerintah untuk menyebarkan ajaran Islam yang damai, tenang, sejuk, dan rahmatan lil alamin.

Sementara itu, Akademisi UIN Jakarta, Moh. Najih Arramadlani memaparkan bahwa masjid sudah seharusnya steril dari kepentingan-kepentingan radikal dan politik.

"Kenapa masjid menjadi sasaran, karena masjid sudah terlalu masuk ke dalam politik, politisasi masjid itulah yang membuat masjid kita menjadi tidak murni lagi. Kita melihat indikasinya sudah sangat matang. Mengkonsolidir 17.000 masjid di Jawa Timur untuk tanggal 17 April 2019 mendatang," papar Najih.

Pemerhati Timur Tengah dan alumni Suriah ini juga mengatakan, bahwa terdapat pola yang sama antara gerakan radikalisme di Suriah dan Indonesia itu sama.

"Saya menemukan banyak pola yang sama antar radikalisme di indonesia denga Suriah di yaitu, menjadikan masjid sebahai basis gerakan radikalisme dan gerakan politik," tutur Najih.

 sd

Najih juga memberikan alasan kenapa di Irak konfliknya tidak kunjung reda. “Kita lihat di Irak isu yang dibangun adalah isu sunni dan syiah. Di suriah juga demikian, di suriah itu sudah banyak masjid yang menjadi korban ledakan. Qatar juga, kalau kita kenal Jumat dengan Jumat mubarok, tetapi di Qatar menjadikan hari Jumat sebagai Jumatul Ghadab (Revolusi Jumat),” lanjutnya.

Najih menambahkan, FSTM diharapkan akan berperan aktif menjadi konsultan bagi masjid-masjid di kementrian, lembaga dan BUMN.

“Misalnya menjelang Ramadhan, bila perlu FSTM menjadi konsultan bagi masjid-masjid yang lain. Syukur-syukur bisa mengeluarkan rekomendasi. Ustadz ini direkomendasikan, ustadz itu dikomendasikan begitu," kata Najih.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement