nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dituding Gelapkan Uang Perusahaan, WN China Divonis 3 Tahun Penjara

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Kamis 14 Maret 2019 17:22 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 14 338 2030023 dituding-gelapkan-uang-perusahaan-wn-china-divonis-3-tahun-penjara-Xvx6rLrQq2.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara (Jakut) memvonis warga negara China bernama Yu Jing dengan hukuman tiga tahun penjara. Terdakwa yang berinvestasi di Indonesia sejak 2006 itu tersandung kasus penggelapan dan penyalahgunaan jabatan saat menjabat sebagai Direktur Utama PT Merge Energy Sources Development (MESD) yang merupakan anak usaha Merge Mining Holding Limited (MMHL).

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang beranggotakan Sutedjo Bomantoro selaku hakim ketua yang beranggotakan Chrisfajar Sosiawan dan Dodong Iman Rusdani memutuskan bahwa pengusaha tambang itu terbukti telah melanggar Pasal 374 juncto 64 KUHP. Menanggapi vonis hakim, penasihat hukum Yu Jing, Anton Indradi menilai putusan hakim sangat rentan merusak iklim investasi di Indonesia.

"Keputusan bersalah majelis hakim menakutkan bagi investor asing yang berinvestasi di Indonesia. Sebab, merusak kepastian hukum bagi investor di negara ini," ujar Anton, Rabu (13/3/2019).

Terlebih lanjut Anton, putusan hakim dianggapnya tidak sesuai koridor hukum. "Padahal di sisi lain pemerintah menggenjot investasi dengan mempermudah perizinan dan kepastian hukum. Nah, dalam kasus ini justru investor asing malah mendapatkan sebaliknya, jangan dizalimi klien kami," tuturnya.

Kasus ini bermula dari laporan yang dibuat oleh perusahaan asal Singapura yakni Agritrade Resources Limited (ARL) terhadap Yu Jing. Yu Jing dilaporkan ke Bareskrim Polri karena dituding melakukan penggelapan dan penyalahgunaan jabatan sebagai Dirut PT MESD. Saat itu, perusahaan Yu Jing yang sahamnya sebanyak 51 persen disepakati untuk dibeli ARL senilai USD153 juta.

Kemudian, uang senilai USD10,3 juta yang merupakan sebagian hasil pembayaran pembelian saham MMHL yang diperuntukkan MESD, disinyalir telah disalahgunakan bukan untuk perusahaan melainkan kepentingan pribadi.

"Dituduh menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi. Semua pembuktiannya berdasarkan asumsi. Bahkan pihak penerima uang yang ditransfer tidak pernah diperiksa," kata Anton.

Anton menyebut bahwa jaksa tidak pernah membuktikan dakwaan jika uang tersebut dipakai untuk kepentingan pribadi Yu Jing. Jaksa justru menyerahkan pembuktian kepada pihak Yu Jing. Sementara Yu Jing bersikukuh menyatakan bahwa uang tersebut dipakai untuk kepentingan operasional perusahaan seperti membayar utang, gaji dan rekrutmen tenaga kerja.

Ilustrasi Penggelapan

"Dari USD10,3 juta, pihak ARL hanya memiliki bukti uang USD1,84 juta yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Itupun mereka tidak bisa membuktikan. Mereka hanya meminta pembuktian terbalik, Yu Jing yang menjelaskan. Sementara kondisi klien kami telah ditahan, seluruh dokumen dan kantor telah dikuasai oleh mereka, lalu bagaimana membuktikannya? Mereka saja enggak bisa membuktikan," tuturnya.

Terakhir, ia menyebut bahwa kasus ini sedang dipantau pihak Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Sehingga dirinya berharap pada tingkat banding nanti, hakim yang menangani perkara ini dapat bekerja secara profesional dan memenuhi rasa keadilan.

"Klien kami sampai bilang ketika pembelaan; 'untuk apa saya menggelapkan uang saya sendiri? Itu kan uang saya hasil jual saham MMHL'," ucap Anton menirukan perkataan Yu Jing.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini