SURABAYA - Adanya fenomena lautan beda warna yang seakan terbelah menjadi dua bagian terjadi di lautan selat Madura, tepatnya di bawah Jembatan Suramadu, Rabu (20/3/2019). Hal itu menjadi penilaian tersendiri bagi Wakil Ketua DPP Laskar Tjakraningrat, Ridwan Anjasmoro.
Menurutnya, akan ada banyak fenomena yang bermunculan di Indonesia selain fenomena lautan menjadi dua warna, sesuai dengan ramalan para leluhur. Banyak laut dan samudera yang mengelilingi benua-benua besar dan pulau-pulau di dunia.

(Baca Juga: Viral Air Laut di Bawah Jembatan Suramadu Beda Warna Seperti Terbelah)
Dari sekian banyak samudera dan laut yang ada di bumi, beberapa tempat menjadi pertemuan wilayah perairan seperti selat Gibraltar, Spanyol (dua warna di laut). Untuk yang terjadi di selat Madura memang terbilang baru. Pasti itu memiliki makna tersirat atas munculnya sebuah fenomena.
Seperti halnya, kisah pertemuan Khidir dan Musa. Di mana juga terjadi pertemuan dua lautan yang menyatu. Jika dicari jawaban secara ilmiah pasti ada jawabannya.
"Namun, di balik keilmiahan itu tersimpan sebuah tanda-tanda bagi kehidupan spiritual manusia. Artinya, di atas fenomena alam pasti ada spiritualnya. Batas kemampuan ilmiah hanya sebatas yang nampak mata, di luar itu mau disikapi dengan apa kalau tidak spiritual," ungkap pria yang konsen di bidang budaya dan spiritual ini.
Oleh karena itu, setiap fenomena harus disikapi dengan baik dan penuh syukur. Melihat fenomena lautan yang terjadi di selat Madura, hakikatnya itu tetap menyatu dalam satu lautan yang luas meskipun dalam pandangan berbeda.
Misalnya, dalam waktu dekat masyarakat akan menghadapi kondisi pemilu. Tentunya akan banyak perbedaan pendapat dan pandangan yang berbeda. Namun, sejatinya yang berbeda itu tetaplah satu yakni Indonesia.
"Artinya apa, kita harus bijak memaknai sesuatu. Jika kita tidak pandai bersyukur dengan cara mendekatkan diri kepada sang pencipta, tunggulah kehancurannya. Rawatlah budaya bangsa yang telah diwariskan oleh leluhur, maka NKRI akan selamanya terjaga," paparnya.
Teruntuk para pemimpin, pintarlah melihat tanda-tanda termasuk memperhatikan sejarah bangsa dan nusantara. Kalau raja-raja terdahulu, jika melihat sebuah pertanda atau fenomena alam akan segera disikapi dengan arif.
(Baca Juga: Ini Penyebab Air Laut di Bawah Jembatan Suramadu Beda Warna Seperti Terbelah)
Makanya pemimpin terdahulu banyak melahirkan beragam bentuk budaya sebagai simbol. Misalnya, rokat tasek atau larung laut itu sebagai sikap menjaga kehidupan lautan agar jangan dirusak, malah harus dihormati.
"Masyarakat harus merawat dan menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan orang terdahulu. Seimbang dengan lingkungan tempat hidup. Jika tidak, fenomena alam akan berubah menjadi petaka yang akan merugikan semua," ucapnya.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.