"Biar tidak panik kalau ada alat yang sudah tidak bisa dipakai. Jadi ketahuan, bisa langsung dicarikan yang baru," tutur dia.
Menurut Putri, Jatilan di Solo ini berbeda dengan di daerah lain, seperti Banyumas atau Purwokerto. Di daerah tersebut, Jatilan atau kuda lumping berdiri sendiri. Sedangkan di wilayah Solo dan sekitarnya, Jatilan atau kuda lumping ini satu paket dengan pertunjukan Reog.
Tak ada ritual khusus saat akan pentas. Putri hanya berusaha tampil sempurna dengan menghafalkan semua gerakan-gerakan Jatilan yang akan dipentaskan. Terkadang, bila kurangan pemain, kelompok seninnya ini sering meminta bantuan ke Grup Kesenian SMKI atau ISI.
Diakui oleh Putri setiap memainkan Jatilan atau kuda lumping, di setiap pertunjukan seringkali dirinya kerasukan roh halus yang jenisnya bermacam-macam. Ada macan (harimau), kera, semar, bahkan ular.
Selain itu, ketika kesurupan, makanan yang diminta pun aneh, seperti ingin makan kembang 7 rupa, kemenyan, dan kelapa muda. Bahkan, hingga yang sangat ekstrem sekali seperti pecahan kaca.
Namun, untungnya permintaan itu tak pernah dipenuhi oleh kelompoknya. Menurut Putri, saat kesurupan, diakuinya kalau dirinya masih setengah sadar. Hanya saja, saat itu dirinya tak bisa mengontrol semua gerakan yang dilakukannya karena mengikuti roh halus yang masuk ke dalam tubuhnya.