Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pengendara Motor Masih Enggan Beralih Gunakan MRT Jakarta

Fadel Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 30 Maret 2019 |10:31 WIB
Pengendara Motor Masih Enggan Beralih Gunakan MRT Jakarta
Suasana antrean calon penumpang di loket tiket MRT Jakarta (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Moda Raya Terpadu (MRT) telah resmi beroperasi di Jakarta pada Minggu, 24 Maret 2019 lalu. Namun, keberadaan MRT itu ternyata masih kurang diminati bagi warga yang terbiasa menggunakan sepeda motor untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari.

"Kurang tertarik saya kalau harus beralih dari motor ke MRT," kata Ilham Wira, salah satu pengendara motor saat ditemui Okezone di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Ilham itu menjelaskan alasan dirinya enggan menggunakan moda transportasi massal berbasis rel tersebut. Ia mengatakan, jikalau harus memutuskan untuk beralih ke MRT, maka harus mengeluarkan ongkos lebih besar.

"Misal dari rumah di Lenteng Agung saja saya mesti naik ojol (ojek online-red) dulu untuk ke stasiun MRT terdekat, seperti di Fatmawati. Lalu, dari sana harus bayar tiket MRT lagi sebesar Rp12.000 sampai ke sekitar Dukuh Atas," kata pria yang berkantor di kawasan Tanah Abang itu.

Hal senada diungkapkan Putra, warga Ciledug. Menurutnya, berkendara dengan sepeda motor masih lebih irit pengeluaran dan tidak perlu lelah berjalan menuju akses MRT.

Penumpang MRT Jakarta

"Masih enakan naik motor. Aksesnya belum bisa ke mana-kemana. Harus transit-transit. Nanti mesti sambung lagi naik ojol. Ongkos sehari bisa Rp50.000 karena harus nyambung dengan transportasi lain," kata Putra, warga Ciledug.

Meski mendapat penolakan dari pengendara motor, ternyata MRT cukup menarik minat pengguna kendaraan roda empat. Sebab, mereka anggap ketimbang bermacet-macetan lebih baik berdesak-desakan di dalam moda transportasi berbasis rel tersebut.

"Saya sih sekarang lebih milih naik MRT kalau untuk ke kantor di daerah Sudirman," kata Eka Prasetya warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

"Kalau naik mobil harus macet-macetan pas ke kantor. Tapi saya harap Pemprov DKI menyediakan lebih Transjakarta yang terintegrasi dengan stasiun MRT," ujar Eggy warga Blok M.

Infografis MRT

Sedangkan bagi pengguna Bus Transjakarta, mereka menilai bahwa tarif tersebut sangat mahal. Mereka lebih memilih menggunakan moda transportasi itu karena dinilai harganya sangat murah dan terjangkau bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah.

"Saya rasa dengan harga Rp14.000 masyarakat akan tetap memilih KRL dan Transjakarta sebagai moda transportasi umum utama. Kalau memang MRT diniatkan untuk eksklusif pada kalangan tertentu ya harga segitu bisa saja," kata Yuli, warga lainnya.

(Rizka Diputra)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement