nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Eks Kasatker SPAM PUPR Akui Sembunyikan Uang Suap di Kamar Mandi

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 15 April 2019 19:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 15 337 2043878 eks-kasatker-spam-pupr-akui-sembunyikan-uang-suap-di-kamar-mandi-b8taSJs46K.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA - Mantan Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Anggiat Partunggul Nahat Simaremare mengakui menyimpan uang suap dari para kontraktor di kamar mandi rumahnya. Uang yang disimpan jumlahnya miliaran rupiah.

Hal itu diakui Anggiat saat bersaksi untuk empat terdakwa yakni, Budi Suharto, Lily Sundarsih, Irene Irma, dan Yuliana Enganita terkait perkara dugaan suap proyek pengerjaan SPAM milik Kemen PUPR di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, pada hari ini.

"Iya ‎disimpan di situ (kamar mandi) karena lemari kami kecil," ujar Anggiat kepada majelis hakim, Senin (15/4/2019).

(Baca Juga: KPU Sebut Persiapan Pencoblosan Pemilu 2019 Sudah 99%

Pengakuan Anggiat diperkuat Berita Acara ‎Pemeriksaan (BAP) istrinya saat proses penyidikan di KPK. Di mana, dalam BAP istri Anggiat, terungkap ada 15 buku tabungan, 11 kartu kredit dalam kamar mandi rumahnya saat digeledah.

Tak hanya itu, dalam BAP istri Anggiat, KPK juga menemukan uang dalam plastik yang disimpan di kamar mandi kediaman Anggiat sebesar Rp300 juta dan USD77.500.

KPK

Majelis hakim heran dengan kelakuan Anggiat yang menyimpan uang sebanyak itu di dalam kamar mandi. Padahal, tekan hakim, kamar mandi adalah tempat yang lembab.

"Kamar mandi itu ditaruh pengharum Pak biar segar. Kalau uang kan jadi lembab, jadi bau. Orang saja ke kamar mandi itu kalau terpaksa, ini malah dijadikan tempat simpan uang," kata ketua majelis hakim.

Anggiat menjelaskan, uang yang ditemukan KPK merupakan pemberian dari sejumlah kontraktor dan ada beberapa yang berasal dari pribadinya. Anggiat juga membeberkan pernah memberikan Rp‎200 juta kepada Direktur SPAM PUPR, Agus Ahyar. Kat‎a Anggiat, uang dari kontraktor tersebut telah diterima Agus Ahyar.

"Saya bilang, ini saya dapat dari kontraktor, lalu saya berikan dan diterima," ujar Anggiat kepada Jaksa KPK.

Awalnya, Anggiat mengatakan uang tersebut sebagai dana operasional. Namun, hakim menganggap alasan itu tidak masuk akal. Sebab, Direktur SPAM merupakan jabatan yang lebih tinggi dari jabatan Anggiat.

(Baca Juga: Direktur Hutama Karya dan 5 Saksi Lainnya Diperiksa KPK soal Proyek Air Minum)

Dalam perkara ini, Budi Suharto dan Lily Sundarsih Wahyudi didakwa bersama-sama dengan Irene Irma serta Yuliana Enganita Dibyo menyuap pejabat PUPR. Keempatnya didakwa Jaksa Penuntut Umum KPK.

Budi merupakan Direktur Utama PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE), dan Lily merupakan Direktur di perusahaan yang sama dengan Budi. Sementara Irene Irma dan Yuliana adalah Direktur di PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP). PT TSP dan PT WKE merupakan korporasi penggarap proyek SPAM milik PUPR.

Keempat pejabat PUPR yang disuap yakni, Anggiat Simaremare selaku Kasatker SPAM Strategis Lampung; Meina Woro Kustinah selaku PPK SPAM Katulampa; Teuku Moch Naza selaku Kasatker SPAM Darurat; dan Donny Sofyan Arifin selaku PPK SPAM Toba 1.

 KPK

Uang suap yang diberikan kepada empat pejabat PUPR senilai Rp4,13 miliar, USD38.000 atau Rp539.980.000 (kurs Rp14.210), dan SGD23.000 atau Rp241.479.290 (kurs Rp10.499). Sehingga total suap yang diberikan Rp4,91 miliar.

(Baca Juga: Mantan Irjen PUPR Diperiksa KPK soal Temuan BPK di Proyek Air Minum

Menurut jaksa, Anggiat diduga telah menerima suap sebesar Rp1,35 miliar dan USD5.000, Meina disebut menerima Rp1,42 miliar dan SGD 23.000, Nazar disebut menerima Rp1,21 miliar dan USD33.000, sementara Donny disebut menerima Rp150 juta.

Uang suap disinyalir diberikan dengan maksud tujuan agar pejabat PUPR tidak mempersulit pengawasan proyek yang dikerjakan PT WKE dan PT TSP. Sehingga, PT WKE dan PT TSP dapat memperlancar pencairan anggaran kegiatan proyek di lingkungan Satker ‎PSPAM Strategis dan Satker Tanggap Darurat.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini