Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Gangguan Jiwa, Gadis Ini Nekat Makan Jari Tangannya Sendiri

Afnan Subagio , Jurnalis-Sabtu, 20 April 2019 |21:29 WIB
Gangguan Jiwa, Gadis Ini Nekat Makan Jari Tangannya Sendiri
Foto Ilustrasi shutterstock
A
A
A

KEDIRI - Seorang remaja putri penderita gangguan jiwa di Kabupaten Kediri, Jawa Timur memakan jari tangannya sendiri hingga putus. Gadis malang ini sempat dipasung karena kerap mengamuk dan mengganggu warga sekitar. Kini ia hanya hidup bersama neneknya, sementara keberadaan orang tuanya tidak diketahui.

Wiji Fitriani harus kehilangan jari jemari tangannya karena perilakunya sendiri, hingga masyarakat menyematkan julukan kanibal untuk dirinya. Perbuatan memakan bagian tangan ini dilakukan Wiji karena diluar kesedarannya.

Remaja putri ini divonis menderita gangguan jiwa, Wiji tinggal bersama neneknya yang bernama Jirah di sebuah rumah kecil di Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Saat kecil Wiji dalam keadaan normal, tetapi kisah pilunya dialami setelah kedua orang tuanya bercerai dan meninggalkan mereka, kondisi kejiwaannya berubah drastic.

“Sejak usia 19 tahun Wiji sering mengamuk dan membahayakan warga sekitar, hingga pihak keluarga mengurungnya di sebuah kamar berpintu besi,” kata tetangga Wiji, Siti kepada wartawan, Sabtu (20/4/2019).

sd

Saat ini, sambung Siti, Wiji yang berusia 21 tahun memiliki kebiasaan yang aneh, yakni memakan jemari tangannya sendiri. Meski mengaku sakit dan berteriak kerap kali tangannya mengeluarkan darah, namun Wiji mengaku hal tersebut dilatar belakangi oleh bisikan bisikan / atau halusinasi.

Sementara itu, Plt Kepala Puskesmas Ngadi, dokter Rindang Farihah Idana mengatakan, medis dari dokter di puskesmas, Wiji menderita gangguan jiwa, skizofrenia. Bisikan yang disebut Wiji kerap melatarbelakangi aktivitasnya memakan jari tangannya sendiri hingga masyarakat menyebutnya kanibal.

Skizofrenia bisa dicegah dengan pengobatan rutin, baik dengan obat maupun pelatihan di posyandu jiwa. Sayangnya hal ini kerap terjadi penolakan dari pihak keluarga, termasuk saat Wiji hendak di rujuk ke RSJ Lawang di Kabupaten Malang serta RSUD Pare untuk menjalani operasi.

“pemerintah desa bersama puskesmas setempat sebenarnya sudah berupaya mengobatkan Wiji, bahkan Wiji pernah rujukan ke rumah sakit jiwa hingga tiga kali serta. Tetapi karena keinginan pasien serta sang nenek, Wiji kembali dibawa pulang dan hanya dirawat seadanya di rumah, ini yang menyebabkan kejiwaannya tak kunjung normal,” kata Rindang.

Saat ini, kedua tangan Wiji yang telah membusuk diperban oleh dokter di Rumah Sakit Dokter Iskak Tulungagung untuk mencegah Wiji melalukan gigitan. Sama seperti sebelumnya, keluarga enggan menjalani perawatan intensif dan memilih pulang setelah menjalani pemeriksaan ringan.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement