nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diduga Merampas Kapal, 2 Debt Collector Jadi Tersangka

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Selasa 23 April 2019 11:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 23 338 2046907 diduga-merampas-kapal-2-debt-collector-jadi-tersangka-yYaiORZ0lj.jpg ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Mabes Polri menetapkan dua debt collector suruhan bank swasta yakni JS alias Jhony dan NR alias Nanang lantaran disinyalir telah mengambil paksa dan merampas surat-surat atau dokumen Kapal TB Herlina 2 milik PT Pelayaran Borneo Karya Swadiri (PBKS) di Perairan Sungai Batang Hari, Desa Talang Duku, Kabupaten Muaro Jambi. Keduanya telah menyandang status tersangka sejak 14 November 2018.

Direktur Utama PT PBKS, M Adjie Pramana mengungkapkan kronologi dugaan perampasan paksa kapal miliknya oleh para pelaku. Peristiwa bermula saat PT PBKS yang merupakan debitur bank tersebut sejak 2012 telah mendapatkan fasilitas pembiayaan kredit investasi sebesar USD9.824.849,38.

Namun, dalam perjalanannya, telah dilakukan perubahan terhadap perjanjian kredit di tahun 2013 dan terakhir dilakukan persetujuan restruktur fasilitas kredit pada 5 Desember 2016. “Kami selalu membayar per bulannya ke Danamon,” kata Adjie kepada wartawan di Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Selanjutnya, pada 3 Maret 2017, pihak bank telah mengeluarkan surat perihal penyelesaian kredit PT PBKS yang menyatakan skema restrukturisasi tidak dapat dilanjutkan dengan dasar laporan sistem informasi debitur per tanggal 31 Desember 2016 tercatat dalam kategori kredit macet (Kol 5) pada Bank Permata.

Adjie mengklaim bahwa kredit di Bank Permata sudah dilunasi oleh PT PBKS pada 22 Maret 2017 silam. Setelah pelunasan, kolektibikitas pun kembali normal, namun hanya BDI yang tetap menempatkan Kol 5 secara subyektif.

Ia pun menyesali dengan pembayaran angsuran pada 30 Maret 2017 sebesar USD49.679,68 dialihkan menjadi pembayaran pengurangan outsanding pokok USD9.824.849,38 yang ditagih mendadak dan sekaligus.

"Penagihan seketika sejumlah USD9.824.849,68 tidak pernah diperjanjikan, itu perbuatan sepihak dan sewenang-wenang dari mereka,” katanya mengeluh.

Kemudian pada April 2017, lanjut Adjie, PT PBKS melakukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan petikan putusan perkara perdata Nomor: 255/Pdt.G/2017/PN.Jkt.Sel, pada November 2017, telah diputuskan bahwa pembayaran angsuran USD42.679,68 adalah sah dan pengalihan pembayaran bunga sebesar USD49.679,68 dan penurunan kol 5 atau kredit macet sebagai perbuatan melawan hukum.

"Kami menang waktu melakukan gugatan di PN Jaksel," ujar Adjie.

Tiba-tiba, kata Adjie, pada 11 September 2017 bank tersebut telah membuat surat perjanjian kerjasama penarikan kapal di dalam surat Nomor 015/SK/WR-R.01/0917 pada 11 September 2017 serta memberikan surat kuasa kepada Jhonny untuk melakukan penarikan jaminan kredit yang seharusnya dilakukan melalui penetapan sita pengadilan.

Ilustrasi Debt Colelctor

"Kapal Harlina 2 milik saya yang sedang berlayar ke Semarang dihentikan dan diambil dokumen-dokumennya dan ditarik kembali ke Jambi, padahal pihak Syahbandar tidak mengizinkan mereka untuk menahan dan merampas kapal saya tanpa ada persetujuan dari pengadilan," katanya menjelaskan.

Akhirnya, kapten Kapal Harlina 2, Delias Manoppo membuat laporan di Polda Jambi dengan nomor LP/B-278/X/2017/SKPTC.POLDA JAMBI untuk tindakan perampasan dokumen tersebut. Laporan itu telah naik ke tingkat penyidikan setelah dilakukannya pemeriksaan beberapa saksi pelapor, kru, direksi PT PBKS, dan terlapor Jhonny Cs dan pihak bank tempat mereka bernaung.

Saat ini, kasus tersebut telah dilimpahkan dari Polda Jambi ke Bareskrim Mabes Polri berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dengan nomor B/432/RES.2.1/XI/2018/Dittipideksus.

Penyidik juga telah menyita kapal milik PT PBKS dan melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan ahli hukum pidana. Para pelaku dijerat Pasal 368 KUHPidana tentang Pemerasan dan Pengancaman.

Adjie pun berharap agar kasusnya tersebut segera tuntas. “Akan terus saya lawan, karena ini sudah zalim. Saya berharap polisi bisa menangkap otak pelaku di belakang kedua debt collector itu," tuturnya.

(put)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini