WARGA Jakarta tentu sangat familiar dengan kawasan Cikini. Sebuah jalan yang terletak di kawasan Jakarta Pusat tersebut ternyata memiliki sejarah yang panjang.
Cikini merupakan salah satu kampung tua di Jakarta. Sampai akhir 1960-an, terdapat kebun binatang di kawasan Cikini yang menjadi salah satu tempat rekreasi di Jakarta saat itu.
Baca Juga: Asal Usul Nama Tanjung Priok yang Menjadi Pelabuhan Terbesar di Indonesia
Di kebun binatang ini, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kemudian membangun Taman Ismail Marzuki (TIM). Ia pun menggusur Bioskop Garden Hall, bioskop kelas satu di Jakarta kala itu.

Cikini tempo doeloe banyak terdapat perkampungan Betawi. Salah satunya adalah Cikini Kecil yang sekarang lokasinya berada di belakang Hotel Sofyan Cikini. Namun, kini kampung tersebut sudah tak tersisa, seperti banyak kampung lain di Jakarta.
Disebut Cikini Kecil karena arealnya yang tidak begitu luas. Di pemukiman Betawi ini dahulu terdapat sebuah makam keramat.
Dilansir Buku Ensiklopedia Jakarta, Amarullah, orang yang banyak tahu soal Cikini, menceritakan tokoh yang sangat terkenal di Cikini Kecil sampai dengan tahun 1960-an adalah Bir Ali. Nama Sesungguhnya Muhammad Ali. Disebut demikian karena ia suka minum bir.
Bir Ali yang merupakan mantan militer ini pernah malang melintang di dunia kejahatan. Dia pernah menembak mati Kun Utoyo. Korban dibunuh saat hendak membonceng istri Bir Ali.
Bir Ali juga pernah menembak mati Ali Badjened, seorang kaya raya di Jakarta. Konon, bersama Kusni Kasdut, dia juga pernah terlibat perampokan emas di Museum Nasional pada pertengahan tahun 1950-an.
Ketika ditahan di LP Cipinang, dia mengajar ngaji para napi lainnya. Menurut seorang kenalan dekatnya, Bir Ali juga pernah memadamkan pemberontakan para napi di LP Cipinang.
Amarullah sendiri ketika kecil tinggal di Tepi Ciliwung di Kampung Cikini Binatu (kini Jl. Raden Saleh II) Disebut demikian, karena di situ banyak tinggal tukang binatu yang memanfaatkan kali Ciliwung yang kala itu masih jernih airnya. Langganan mereka adalah tuan dan nyonya Belanda yang tinggal di Cikini. Di sini juga banyak tinggal tukang delman (sado).
"Saya sendiri dari keluarga tukang delman," ujarnya.
Kala itu, Kampung Cikini yang kini kumuh banyak terdapat lapangan tempat kandang kuda. Kuda-kuda oleh tukang delman di Cikini juga dimandikan di Ciliwung. Dahulu, di belakang Pasar Cikini yang megah depan stasiun kereta api Cikini, ada kampung Cikini Kramat Kamboja.
Kampung yang juga dikenal sebagai Gang Ampiun ini dilintasi kereta api barang yang mangkal di Gang Kenari (samping FK UI). Yang masih menjadi peninggalan tempo dulu di sini adalah para pedagang yang mangkal berjejer hingga Stasiun Cikini. Para tukang kembang di Pasar Cikini sudah merupakan generasi turun temurun sejak buyut mereka.