nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kampung Glodok, Pusat Bisnis Bekas Pembantaian Massal Warga Tionghoa

Jum'at 14 Juni 2019 15:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 14 338 2066482 kampung-glodok-pusat-bisnis-bekas-pembantaian-massal-warga-tionghoa-iNwmcHKdGH.jpg Salah satu gedung bekas Apotek Merah yang kini jadi pusat Kuliner di Glodok (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kawasan Glodok kini dikenal sebagai kawasan bisnis dengan perputaran uang yang fantastis. Daerah yang terletak di Tamansari, Jakarta Barat ini nyatanya menyimpan serangkaian peristiwa kelam sejarah pembantaian massal etnis Tionghoa.

Pembantaian tersebut diperkirakan menewaskan sekira 10 ribu warga, dengan 500 terluka parah, barang mereka pun dijarah dan sekira 700 rumah rusak.

Sejarah menunjukan, kawasan Glodok pada masa penjajahan Belanda adalah bekas ruang isolasi etnis Tionghoa. Asimilasi warga keturunan Tionghoa sudah lama menetap di daerah tersebut. Dikutip dari buku Ensiklopedia Jakarta Volume 3, terbitan PT Lentera Abadi, para warga keturunan tersebut sudah ada bahkan sejak sebelum Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen berkuasa di tahun 1619.

Pasar Glodok

Namun, warga Tionghoa yang melawan penjajahan dan memberontak sekira tahun 1740 membuat warga di daerah tersebut diisolasi dan tak diizinkan memasuki tembok kota. Namun, kawasan tersebut justru menjadi perkampungan mereka.

Pembantaian etnis Tionghoa tak hanya terjadi di masa penjajahan Belanda. Di Tahun 1998, saat masa transisi kepindahan pusat pemerintahan dari Soeharto ke BJ Habibie, terdapat kerusuhan di sekitaran Glodok yang menyebabkan banyak warga etnis Tionghoa meregang nyawa, rumah mereka dibakar, dan barang-barang mereka dijarah.

(Baca Juga: Betawi Tengah: Sebutan untuk Warga yang Menetap di Keresidenan Batavia)

Bahkan, Kali Angke yang berdekatan dengan kawasan Glodok disebut menjadi saksi sejarah pembantaian tersebut. Konon, nama Kali Angke diambil dari bahasa Mandarin yang berarti Kali Merah, karena pada saat itu, Kali Angke berubah warna menjadi merah karena banyaknya pertumpahan darah.

(Baca Juga: Pangeran Pecah Kulit si Orang Belanda Pendukung Indonesia)

Keributan antara warga asli dengan etnis Tionghoa dimulai saat sekira 80 ribu warga keturunan mencari peruntungan di Batavia. Banyak di antara mereka yang bekerja di pabrik-pabrik gula yang masa itu merupakan penghasilan bidang perkebunan terbesar di Jakarta. Hal tersebut disinyalir menjadi biang keladi pertengkaran warga etnis Tionghoa dengan warga pribumi.

Kini, kawasan Glodok disulap oleh warga sekitar menjadi pusat bisnis dan mempelopori sistem rumah toko (ruko) yang kini diadaptasi oleh banyak warga di seluruh Indonesia. Para warga dahulu menjajakan barang di lantai bawah, sedangkan mereka tinggal di lantai atas.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini