nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Betawi Tengah: Sebutan untuk Warga yang Menetap di Keresidenan Batavia

Kamis 13 Juni 2019 19:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 13 338 2066099 betawi-tengah-sebutan-untuk-warga-yang-menetap-di-keresidenan-batavia-kFk4Ho9HEQ.jpg Masyarakat Betawi tempo dulu. (Foto: Wikipedia.org)

JAKARTA – Ada beberapa bagian dalam kehidupan masyarakat Jakarta, salah satunya adalah warga yang biasa disebut kelompok Betawi Tengah. Mereka diketahui menetap di pusat Kota Batavia yang dahulu dinamakan Keresidenan Batavia dan sekarang termasuk Jakarta Pusat.

Mengutip dari buku Ensiklopedia Jakarta, Kamis (13/6/2019), tempat tinggal kalangan Betawi Tengah merupakan lokasi Jakarta yang paling urban. Di wilayah inilah terjadi arus urbanisasi dan modernisasi dalam skala paling tinggi.

Salah satu dampaknya adalah orang Betawi yang tinggal di pusat kota ini paling tinggi tingkat kawin campurnya.

(Baca juga: Pangeran Pecah Kulit si Orang Belanda Pendukung Indonesia)

Dari segi ekonomi, warga Betawi Tengah bisa dikategorikan menjadi kalangan 'orang gedong' dan 'orang kampung'. Sebutan dua hal itu tampaknya hanya berdasarkan tempat tinggalnya.

Kemudian dampak lain dari pesatnya arus urbanisasi dan modernisasi di kawasan Betawi Tengah juga mengakibatkan warga aslinya menjadi "terpinggirkan". Mereka rela menjual tanah –karena harganya cukup tinggi– lalu pindah ke daerah pinggiran Batavia.

Ilustrasi kampung Betawi. (Foto: Beritabuana)

Tempat tinggal baru warga Betawi Tengah ini sebenarnya kawasan orang-orang Betawi Pinggir. Maka itu, banyak warga Betawi Tengah yang menjadi berada di daerah Betawi Pinggir.

Warga Betawi Tengah (orang gedong) banyak juga yang berpendidikan tinggi. Generasi mereka sekarang tidak hanya mencapai pendidikan universitas, tetapi ada juga yang berhasil sekolah hingga luar negeri.

(Baca juga: Kisah Sabeni si Pendekar Legendaris Betawi dari Tanah Abang)

Sementara itu, populasi penduduk asli Betawi yang bermukim di pusat kota saat ini sangat sedikit. Mereka kini hanya terlihat di kawasan Sawah Besar, Taman Sari, Gang Ketapang, Kebon Jeruk, Krukut, dan Pekojan.

Sebagian dari mereka masih menganut tradisi tempo dulu, seperti ketika upacara pernikahan, Lebaran, khitanan, hingga bersosialisasi dengan para tetangga.

Dalam hal keagamaan mereka juga masih meneruskan tradisi Betawi. Sebut saja mengaji bagi anak-anak usia belasan tahun, majelis taklim bagi kaum ibu, dan tadarusan untuk bapak-bapak.

Tradisi-tradisi tersebut terus mereka pegang teguh sampai kini. Bahasa yang mereka gunakan pun dialek Betawi Tengah.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini