nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Air Keruh dan Berlumut Jadi Harta Berharga Warga NTT saat Kemarau

Adi Rianghepat, Jurnalis · Sabtu 22 Juni 2019 09:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 21 340 2069365 air-keruh-dan-berlumut-jadi-harta-berharga-warga-ntt-saat-kemarau-GpZOnYa21p.jpg

KUPANG - Petani Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini mulai memasuki musim tanam kedua. Namun begitu, sejumlah petani masih galau karena kondisi alam kini tak mendukungnya secara maksimal.

Sejumlah sumber air baku termasuk curah hujan sama sekali tak memberi dukungan maksimal. Debitnya mulai turun. Semuanya karena kemarau mulai menggilitik. Nasib sejumlah lahan tadah hujan pun harus pensiun dari aktivitas tanam.

"Ya, apa mau dikata, kondisi tak memberikan kami peluang untuk bisa memanfaatkan seluruh lahan di musim tanam ini. Apalagi di lahan tadah hujan," kata seorang pemilik lahan Maria Nuban Saku dalam sebuah perbincangan.

Sawah di NTT

Warga RT 019 RW 008 Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang itu mengaku, selama ini selain berharap hujan, lahan sawahnya seluas 3 hektare itu bersandar kepada suplai air dari sebuah bendungan di Tilong. Namun karena kemarau sudah mulai melanda, bendungan yang memiliki luas genangan 154,97 hektare itu tak sanggup lagi memberi suplai cukup.

"Curah hujan yang minim akibat kemarau ini telah membuat debit air di bendungan itu pun menurun dan tak lagi mampu menyuplai air untuk kebutuhan areal persawahan di 4 desa di wilayah itu," katanyanya lagi.

Lipsus Kekeringan

Alhasil, tak semua lahan bisa ditanam karena supalai air mulai berkurang. "Sejatinya Bendungan Tilong dengan kapasitas 19,07 juta kubik itu dipakai untuk mengaliri lebih dari 1.500 hektare lahan di 4 desa itu. Namun karena berkurang debitnya tentu tak lagi mampu menyuplai air secara normal untuk seluruh sawah itu," katanya.

Sejumlah lahan yang masih mendapatkan suplai air Tilong pun lanjut Maria Nuban Saku harus digilir oleh petugas agar bisa merata ke seluruh lahan. "Jika tidak diatur maka akan sulit dipakai untuk lahan lainnya. Jadi ada petugas yang bertugas membuka dan menutup alir air ke sejumlah lahan sesuai kesepakatan seluruh pemilk lahan," katanya.

Kekeringan ancam NTT

Di titik ini tentunya ada harapan yang sangat dari pemerintah mencari langkah solutif untuk menyelesaikan persoalan tahunan yang berulang setiap musim kemarau tiba. "Kami tak bisa berbuat apa-apa selain bergantung dari aksi nyata pemerintah mencarikan langkah solutif menyelesaikan persoalan ini," katanya berharap.

Karena jika ini terus berulang, maka tentunya akan sangat berpengaruh kepada produktivits hasil pertanian para petani tadah hujan di daerah itu, yang berdampak kepada kondisi perekonomian warga.

Perjalanan kondisi alam di NTT saban tahun termasuk musim kemarau itu memang pasrah diterima warga. Tak hanya untuk pemenuhan kebutuhan irigasi pertanian, mandi dan cuci pun warga rela memanfaatkan alir air irigasi.

"Saya dan keluarga terpaksa memanfaatkan air irigasi ini untuk cuci dan mandi. Untuk minum kami memanfaatkan sumber air PDAM milik tetangga namun harus mengantri karena juga tidak lagi mengalir secara normal," kata seorang warga Desa Noelbaki Kabupaten Kupang, Agai (58).

Warga Indonesia kelahiran Provinsi Timor Timur saat masih terintegrasi dengan NKRI itu mengatakan, kondisi itu sudah menjadi langgan saban tahun jika kemarau datang. "Sudah tiap tahun jika kemarau melanda daerah ini, maka irigasi ini menjadi pilihan kami mencuci pakaian dan mandi," katanya.

Kekeringan ancam NTT

Meskipun airnya terlihat keruh dan berlumut namun dia mengaku bisa membilas seluruh pakaiannya untuk kemudian dipakai setelah kering nantinya. "Kami sudah biasa dengan kondisi ini," katanya saat sedang membilas sehelai pakaiannya yang dicuci di irigasi tersebut.

Untuk minum dan memasak, warga yang mendiami rumah darurat di kompleks Terminal Bus antarkota di Noelbaki itu mengaku menggunakan sumber air PDAM milik warga lokal yang berada di luar kompleks terminal tersebut.

"Memang harus mengantre tetapi kami diizinkan untuk mengambilnya dan tidak dipungut biaya," kata ibu yang mengaku memiliki tiga orang anak tersebut.

Kekeringan ancam NTT

Kepala Stasiun Klimatologi Kupang Apolinaris S Geru terpisah mengakui bahwa sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah memasuki musim kemarau.

Dia menjelaskan, dari hasil analisis curah hujan dasarian 1 Juni 2019, umumnya wilayah NTT mengalami curah hujan dengan kategori rendah (0-50 mm). Dan daerah yang terdampak kondisi ini salah satunya adalah Kabupaten Kupang.

Bahkan, dari hasil monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) dasarian 1 Juni 2019 dengan kategori ekstrem lebih dari 60 hari (>60) terjadi di Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Kabupaten Lembata dan Kabupaten Belu. Bahkan menurut dia, dari pergerakan cuaca yang ada masih akan terjadi sejumlah pergerakan (perubahan) terkait cuaca tersebut.

"Ya dimungkinkan akan terus berubah. Namun yang pasti secara umum 23 zona musim di NTT sudah memasuki musim kemarau 2019," tandas Apolinaris S Geru.

Bangun 7 Bendungan

Tentunya keluhan warga sepanjang tahun itu mulai perlahan dijawab pemerintah bahkan harus ditangani pemerintah pusat.

Presiden Joko Widodo bahkan telah menyetujui pembangunan 7 bendungan di NTT untuk mengatasi krisis air bersih di provinsi selaksa nusa itu. Selain itu dengan bendungan itu, perekonomian masyarakat di NTT bisa terus ditumbuhkan menuju sejahtera.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) menyebutkan dari 7 bendungan tersebut akan menampung 188 juta metrik kubik (m3) air yang dapat dimanfaatkan untuk irigasi, sumber air baku, pembangkit listrik, dan pariwisata.

Bendungan di NTT

Pembangunan 7 bendungan tersebut bagian dari 49 bendungan yang diprogramkan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Biaya pembangunan 7 bendungan tersebut sebesar Rp5,9 triliun dan sangat penting bagi masyarakat NTT yang kerap mengalami kekurangan air.

Sebanyak 7 bendungan itu masing-masing, Bendungan Raknamo, Rotiklot, Manikin, Temef dan Kolhua. Selanjutnya Napun Gete di Kabupaten Sikka Flores dan Mbay. Dari 7 bendungan, dua bendungan telah selesai yaitu Raknamo di Kabupaten Kupang dan Rotiklot di Kabupaten Belu.

Bendungan Raknamo dimulai pembangunannya (groundbreaking) oleh Presiden Jokowi pada tanggal 20 Desember 2014 dan diresmikan pengisiannya oleh Presiden pada 9 Januari 2018. Penyelesaian pembangunan bendungan ini lebih cepat 13 bulan dari target semula yakni Januari 2019.

Tentu ada harapan baru dengan 7 bendungan yang diinisiasi Presiden Joko Widodo tersebut. Ada asa di balik 7 bendungan itu tidak hanya untuk para petani, namun juga bagi seluruh warga yang mendiami bumi Flobamora yang terkenal kering karena kemarau panjangnya yang ekstrem saban tahun.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini