Perjalanan kondisi alam di NTT saban tahun termasuk musim kemarau itu memang pasrah diterima warga. Tak hanya untuk pemenuhan kebutuhan irigasi pertanian, mandi dan cuci pun warga rela memanfaatkan alir air irigasi.
"Saya dan keluarga terpaksa memanfaatkan air irigasi ini untuk cuci dan mandi. Untuk minum kami memanfaatkan sumber air PDAM milik tetangga namun harus mengantri karena juga tidak lagi mengalir secara normal," kata seorang warga Desa Noelbaki Kabupaten Kupang, Agai (58).
Warga Indonesia kelahiran Provinsi Timor Timur saat masih terintegrasi dengan NKRI itu mengatakan, kondisi itu sudah menjadi langgan saban tahun jika kemarau datang. "Sudah tiap tahun jika kemarau melanda daerah ini, maka irigasi ini menjadi pilihan kami mencuci pakaian dan mandi," katanya.

Meskipun airnya terlihat keruh dan berlumut namun dia mengaku bisa membilas seluruh pakaiannya untuk kemudian dipakai setelah kering nantinya. "Kami sudah biasa dengan kondisi ini," katanya saat sedang membilas sehelai pakaiannya yang dicuci di irigasi tersebut.
Untuk minum dan memasak, warga yang mendiami rumah darurat di kompleks Terminal Bus antarkota di Noelbaki itu mengaku menggunakan sumber air PDAM milik warga lokal yang berada di luar kompleks terminal tersebut.
"Memang harus mengantre tetapi kami diizinkan untuk mengambilnya dan tidak dipungut biaya," kata ibu yang mengaku memiliki tiga orang anak tersebut.

Kepala Stasiun Klimatologi Kupang Apolinaris S Geru terpisah mengakui bahwa sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah memasuki musim kemarau.
Dia menjelaskan, dari hasil analisis curah hujan dasarian 1 Juni 2019, umumnya wilayah NTT mengalami curah hujan dengan kategori rendah (0-50 mm). Dan daerah yang terdampak kondisi ini salah satunya adalah Kabupaten Kupang.
Bahkan, dari hasil monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) dasarian 1 Juni 2019 dengan kategori ekstrem lebih dari 60 hari (>60) terjadi di Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Kabupaten Lembata dan Kabupaten Belu. Bahkan menurut dia, dari pergerakan cuaca yang ada masih akan terjadi sejumlah pergerakan (perubahan) terkait cuaca tersebut.
"Ya dimungkinkan akan terus berubah. Namun yang pasti secara umum 23 zona musim di NTT sudah memasuki musim kemarau 2019," tandas Apolinaris S Geru.