CIREBON - Di jalan yang tidak beraspal itu, sang 'Mayor' menepikan sepeda motornya. Sekujur tubuhnya basah bermandikan keringat. Debu kotor bercampur lumpur terlihat menempel pada pakaian lusuh yang ia kenakan.
Saat itu, matahari memang sedang terik-teriknya. Para petani di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, juga sudah mulai beranjak meninggalkan area persawahannya dengan raut wajah yang muram.
Setelah menepikan sepeda motornya, sang 'Mayor' kemudian berjalan menghampiri para petani tersebut. Dari percakapannya, terdengar mereka sedang membicarakan sesuatu yang begitu penting.

Merasa penasaran dengan pembicaraan mereka, Okezone pun mencoba mendatangi sang 'Mayor' dan beberapa petani tersebut. Ketika didekati, sang 'Mayor' yang bernama Sunadi ini bercerita, memasuki musim kemarau seperti sekarang ini, kondisi air pada saluran irigasi di sekitar area persawahannya mulai menyusut, dan terancam mengalami kekeringan.
"Sudah satu bulan setengah, kami kesulitan air. Mas kan tahu, hujan terakhir itu waktu awal-awal bulan puasa. Saya stres kalo kondisi seperti ini. Saya ini ditugaskan Kepala Desa untuk jadi Mayor. Sudah jadi kewajiban saya kalau petani disini pada kebagian air," ujar Sunadi, saat berbincang dengan Okezone, Kamis (20/6/2019).

Dijelaskan Sunadi, jika para petani di wilayahnya hanya megandalkan sumber air yang dialirkan melalui Waduk Jati Gede. Sunadi mengaku, meskipun sudah beberapa kali mencoba menggali air tanah, namun tetap saja usaha tersebut sia-sia karena tidak ada air yang keluar.
"Sudah coba ngebor, tapi gak ada air yang keluar, " sambungnya.
Akibat kelangkaan air yang dialami oleh wilayahnya, tidak jarang Sunadi menjumpai para petani yang berselisih, karena berebut sumber mata air.

"Sampai berantem mas gara-gara rebutan air ini. Kalau kondisi seperti ini, untuk mengairi beberapa petak sawah juga tidak cukup, " ujarnya.