Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Puber Politik dan Meningkatnya Partisipasi Pemilih

Harits Tryan Akhmad , Jurnalis-Sabtu, 29 Juni 2019 |11:30 WIB
Puber Politik dan Meningkatnya Partisipasi Pemilih
Ilustrasi pemilihan umum. (Foto: Timotius/Antaranews)
A
A
A

JAKARTA - Pada Pemilihan Umum Serentak 2019 tingkat partisipasi masyarakat Indonesia terbilang tinggi dibandingkan pemilu sebelumnya. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jika dibandingkan 2014, peningkatan angka partisipasi hampir 10 persen.

Naiknya angka partisipasi pemilih itu juga membuat masyarakarat menjadi melek politik. Hampir di setiap saat masyarakat seperti berbondong-bondong meributkan perihal politik.

Tak hanya di forum formal, perdebatan soal politik kini sudah menjamur hingga warung-warung kopi, bahkan grup Whatsapp keluarga. Namun, obralan mereka sekadar membela salah satu tokoh politik yang dianggap sejalan dengan pemikirannya.

Menyikapi hal itu, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengutarakan setidaknya ada tiga faktor yang membuat masyarakat menjadi reaktif terhadap situasi politik saat ini.

"Pertama, suka atau tidak ada pengaruh dari fanatisme yang tinggi ya, karena ini pertarungan kedua dari orang yang sama. Artinya dengan tingkat fanatisme lebih tinggi keterlibatan mereka dalam arti memenangkan pasangannya dan jagoannya," jelas Yunarto kepada Okezone, belum lama ini.

Lipsus puber politik. (Foto: Okezone)

Kemudian faktor kedua, menurut Yunarto, adalah media sosial. Di mana untuk saat ini semua masyarakat sudah akrab dengan namanya medsos, sehingga mereka bisa menyebarkan informasi-informasi terkait situasi politik melalui akun media sosialnya.

Faktor yang ketiga, lanjut Yunarto, adalah munculnya sebuah kesadaran dari masyarakat yang sebelumnya apolitis atau tidak peduli politik, kemudian merasa terpanggil untuk ikut terlibat dalam Pemilu Serentak 2019. Apalagi, mereka juga merasa jika politik ini akan menentukan kehidupan mereka ke depannya.

"Jadi tiga hal itu mengapa keterlibatan masyarakat jauh lebih terasa dan minimal terbukti kalau dari sisi kuantitatif ini kan angkanya tinggi partisipasi pemilih di atas 80 persen. Meningkat jauh dibandingkan dengan tahun 2014," tutur Yunarto.

Namun sayang, kata dia, di tengah meleknya masyarakat terhadap politik, mereka masih menerima informasi hoaks atau berita bohong. Sehingga, mereka berpendapat menggunakan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Kemudian hal itu lantas membuat mereka dapat disebut dengan "puber politik". Berita bohong pun juga memberikan imbas luas, seperti beberapa pihak tidak lagi percaya dengan hasil lembaga survei ataupun hasil hitung cepat.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement