JAKARTA – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Irma Suryani Chaniago, tidak sepakat dengan istilah puber politik yang belakangan populer di kalangan masyarakat. Ia lebih nyaman memaknai fanatisme buta di dunia politik dengan sebutan "gagal paham demokrasi".
"Saya justru enggak ngerti apa itu yang dimaksud dengan puber politik. Menurut saya yang terjadi saat ini adalah gagal paham tentang apa itu arti demokrasi," kata Irma saat berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.
Istilah puber politik mulai populer dalam beberapa tahun belakangan. Fenomena tersebut menunjukkan betapa tingginya ketertarikan seseorang terhadap isu-isu politik. Tak ayal, pembicaraan mengenai politik mudah dijumpai di berbagai grup percakapan WhatsaApp hingga warung kopi.
Ketertarikan masyarakat terhadap isu politik meningkat seiring tingginya partisipasi di pemilihan umum. Namun, tingginya partisipasi dan ketertarikan itu tidak dibarengi penggunaan akal sehat sehingga menimbulkan fanatisme buta.
Berbagai fenomena yang menyesakkan dada turut mewarnai kondisi sosial-politik di Tanah Air. Misalnya saja gara-gara beda pilihan politik tega menyuruh saudaranya memindahkan makam. Ada pula yang tidak tegur sapa lantaran beda pilihan.

Nuansa emosional dan tak mampu menerima perbedaan acap kali mewarnai kondisi masyarakat kini. Fase tersebut menunjukkan betapa hasrat mampu mengalahkan akal sehat.
Irma menuturkan, oknum politikus kerap memanfaatkan masyarakat untuk melakukan kebebasan tanpa tanggung jawab atas nama demokrasi. Padahal, hal tersebut demi kepentingan pribadi dan kelompok si oknum politikus itu sendiri. Tidak heran jika saat ini marak bertebaran hoaks, hasutan, hingga fitnah.
"Reformasi yang diharapkan dapat membuka belenggu HAM (hak asasi manusia) yang selama ini dirampas, tidak dibarengi dengan memberikan edukasi dan diskursus kepada masyarakat tentang visi-misi reformasi, sehingga yang terjadi justru demokrasi yang kebablasan," ujar politikus Partai Nasdem ini.
Fase gagal paham demokrasi, yang merupakan arti lain dari puber politik, akan sangat berbahaya jika terus dilanggengkan. Sebab, orang bisa menebar hoaks, mencaci maki, dan memfitnah hanya karena perbedaan pandangan politik. Hal ini justru telah membajak demokrasi.
"Sangat berbahaya," tegas Irma.