BANDUNG - Belakang ini, ramai akan adanya gempa megathrust dengan magnitudo 8,8 berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa, dan bisa menyebabkan timbulnya gelombang tsunami dengan ketinggian 20 meter di sepanjang pantai tersebut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebutkan berdasarkan hasil kajian ilmiah yang didukung dengan sejarah kejadian bencana tsunami membuktikan bahwa wilayah selatan Jawa merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan risiko tinggi terhadap bencana tsunami.
Megathrust selatan Jawa memang memiliki potensi membangkitkan gempa bumi dengan magnitudo 8,8. Kapan akan terjadi gempa bumi tidak dapat dipastikan.
"Jika gempa bumi dengan magnitudo sebesar itu terjadi, maka berdasarkan pemodelan tsunami memang berpotensi membangkitkan tsunami dengan ketinggian gelombang di pantai 15-20 meter," kata Sri Hidayati Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Badan Geologi KESDM.

Hal tersebut sebaiknya tidak dihadapi dengan kepanikan, namun sebaiknya dijadikan sebagai kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dan semua pihak dalam melakukan upaya mitigasi bencana tsunami.
Pantai rawan tsunami adalah pantai yang berhadapan langsung dengan sumber gempa bumi, dengan kondisi diantaranya pantai landai, pantai berbentuk teluk, pantai tanpa penghalang alami dan ada muara sungai (lebar, dalam dan bentuk sungai lurus).
Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia. Sebagai konsekuensi logis, terdapat lebih dari 252 sumber gempa bumi (patahan aktif) yang telah berhasil diidentifikasi oleh Pusat Gempabumi Nasional (Pusgen).

Tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia membentuk zona subduksi Sunda, yang merupakan sumber gempa bumi utama, di sepanjang perairan selatan Jawa. Zona subduksi Sunda berpotensi menghasilkan gempa bumi pada kedalaman dangkal.
"Gempa bumi menengah-besar pada kedalaman dangkal berpotensi memicu kejadian tsunami. Hal ini menyebabkan wilayah pantai selatan Jawa rawan terhadap bencana tsunami," ucapnya.
Sejarah Tsunami di perairan selatan Jawa sejarah mencatat, sejak awal abad ke 20, pantai selatan Jawa telah dilanda oleh 20 kali kejadian tsunami yang dipicu oleh goncangan gempabumi.
Wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Pangandaran (1921, 2006), Kebumen (1904), Purworejo (1957), Bantul (1840), Tulungagung (1859), Jember (1921) Banyuwangi (1818, 1925, 1994).
Pada dekade 1990an dan 2000an, dua tsunami besar melanda Banyuwangi (1994) dan Pangandaran (2006). Tsunami Banyuwangi dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo M7.2 dan menyebabkan 377 orang meninggal.
Sedangkan tsunami Pangandaran yang menyebabkan 550 korban jiwa dipicu oleh gempa bumi skala M7.7 yang menghasilkan gelombang tsunami dengan tinggi 1-6 m dan jarak landaan 100-400 m.
"Salah satu karaterisitik penting tsunami di selatan Jawa adalah tsunami earthquake yaitu tsunami besar yang dipicu oleh kejadian gempa bumi dengan magnitudo relatif kecil dan goncangan kadangkala tidak terasa," ujarnya.
Kejadian tsunami earthquake seperti halnya Tsunami Pangandaran 2006 patut mendapat perhatian lebih karena didahului gempa bumi dengan goncangan lemah sehingga masyarakat sekitar pantai lengah dan tidak sadar terhadap kemungkinan datangnya tsunami.
Upaya mitigasi bencana tsunami dilakukan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dengan diantaranya melakukan penelitian endapan tsunami yang bertujuan untuk mengetahui jejak landaan tsunami yang pernah terjadi sebelumnya.
Kemudian membuat Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Tsunami dengan pemodelan numerik dengan mempertimbangkan potensi gempa bumi maksimum yang mungkin terjadi di lepas pantai suatu daerah.
Peta ini menggambarkan perkiraan jarak landaan dan tinggi rendaman yang mungkin terjadi pada suatu wilayah.
Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan ketahanan masyarakat menghadapi tsunami.
Potensi tsunami earthquake di pantai selatan Jawa harus mendapatkan perhatian serius karena jenis tsunami ini dapat didahului oleh gempa bumi yang tidak terlalu besar.
"Kita sebaiknya mengenali wilayah pantai rawan tsunami atau tidak," katanya.
Selain itu juga sebaiknya mendirikan bangunan di luar jangkauan terjangan tsunami dan mengetahui tata cara penyelamatan diri dan membangun atau mempertahankan hutan pantai dan gumuk pasir yang secara alamiah berfungsi sebagai pemecah gelombang atau membuat bangunan pemecah gelombang.
Kemudian membuat pelatihan tata cara menghindari tsunami, sosialisasi, berwawasan bencana tsunami dan sistem peringatan dini tsunami.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.