Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ini "Generator" yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Selatan Jawa

Sarah Hutagaol , Jurnalis-Sabtu, 27 Juli 2019 |13:32 WIB
Ini
Ilustrasi
A
A
A

JAKARTA - Beberapa waktu lalu, Pakar Tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan dan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko mengungkapkan adanya potensi gempa berkekuatan magnitudo 8,5 hingga 8.8 yang akan terjadi di Pulau Jawa bagian Selatan.

Gempa dengan kekuatan yang besar tersebut juga berpotensi menyebabkan adanya tsunami. Diperkirakan tsunami yang muncul dari gempa itu hingga mencapai ketinggian 20 meter.

Dengan adanya potensi yang diperkirakan pakar tersebut, Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono menyebutkan bahwa bagian Selatan dari Pulau Jawa memang merupakan daerah yang rawan terjadi gempa dan tsunami.

Lipsus Gempa Tsunami

“Khususnya wilayah selatan Jawa, keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat sehingga wajar jika wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami,” ujar Daryono kepada Okezone.

Hal tersebut dibuktikan dengan seringnya Pulau Jawa diguncang gempa. Berdasarkan data, gempa dengan kekuatan di atas magnitudo 7,0 pada tahun 1840, 1859, 1863,1867, 1871, 1896, 1903, 1921, 1923, 1937, 1945,1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006.

Sementara itu, tsunami Selatan Jawa juga pernah terjadi pada tahun 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006. Menurut Daryono, bukti ini menunjukkan bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar bukanlah berita bohong.

“Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi bukan prediksi, sehingga kapan terjadinya tidak ada satupun orang yang tahu,” ungkapnya.

Dikarenakan setiap gempa dan tsunami tidak memiliki kepastian kapan akan terjadi, maka Daryono mengimbau agar melakukan beberap upaya untuk mengurangi resiko terjadinya bencana, baik secara fisik maupun non-fisik.

“Untuk itu dalam ketidakpastian kapan terjadinya, kita semua harus melakukan upaya mitigasi struktural dan non struktural yang nyata dengan cara membangun bangunan aman gempa, melakukan penataan tata ruang pantai yang aman dari tsunami, serta membangun kapasitas masyarakat terkait cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami,” papar Daryono.

Ilustrasi Gempa

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan kalau potensi adanya gempa ataupun tsunami merupakan resiko yang harus diterima dikarenakan Indonesia berada di pertamuan batas lempeng. Meskipun demikian, ia berharap semua masyarakat tidak perlu cemas dan takut.

“Semua informasi potensi gempa dan tsunami harus direspon dengan langkah nyata dengan cara memperkuat mitigasi. Dengan mewujudkan semua langkah mitigasi maka kita dapat meminimalkan dampak, sehingga kita tetap dapat hidup dengan selamat, aman, dan nyaman di daerah rawan gempa,” terangnya.

“Peristiwa gempa bumi dan tsunami adalah keniscayaan di wilayah Indonesia, yang penting dan harus dibangun adalah mitigasinya, kesiapsiagaannya, kapasitas stakeholder dan masyarakatnya, maupun infrastruktur untuk menghadapi gempa dan tsunami yang mungkin terjadi,” tutup Daryono.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement