SEMARANG – Publik akhir-akhir ini digegerkan dengan prediksi yang dikeluarkan oleh pakar tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko. Dia memprediksi akan terjadi gempa sekira magnitudo 8,5-8,8 yang akan mengguncang selatan Pulau Jawa.
Gempa besar tersebut juga diprediksi akan diikuti gelombang tsunami hingga setinggi 20 meter. Daerah yang berpotensi tersapu gelombang tsunami mulai dari selatan Cilacap, hingga Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pakar geologi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr.rer.nat. Thomas Triadi Putranto, ST, M.Eng, mengkritisi prediksi tersebut. Menurutnya, untuk membuat suatu permodelan simulasi tak hanya memasukkan input data tetapi juga proses validasi atau kalibrasi.
“Simulasinya bagaimana itu, harus divalidasi. Jadi kalau dalam kita membuat satu model, model itu kan gambaran sederhana dari kejadian yang kompleks yang ada di alam. Kalau ada kejadian yang kompleks di alam ini, maka disederhanakan, kemudian melakukan pemodelan, merunning hasil input data yang dimasukkan kemudian setelah itu akan ada luaran,” kata Thomas, Jumat (26/7/2019).

Sekretaris Departemen Teknik Geologi Universitas Diponegoro itu menambahkan, kawasan di sepanjang jalur Pantai Selatan Pulau Jawa memang berada di atas pertemuan lempeng benua dan lempeng samudra. Sehingga bila terjadi tumbukan lempeng, maka berpotensi terjadi bencana geologi berupa gempa bumi.
“Kita ketahui dari jalur selatan di wilayah bagian selatan itu memang jalur subduction zone. Di situ memang ada pertemuan antara lempeng benua dengan lempeng samudra. Kalau itu terjadi pergerakan akan mengakibatkan terjadinya beberapa kejadian gempa yang dipicu oleh pergerakan tadi,” tuturnya.
Meski demikian, dia mengatakan, sangat sulit mengamati pergerakan lempeng tersebut karena letaknya jauh di bawah permukaan tanah. Terlebih hingga saat ini belum terdapat alat yang bisa mendeteksi pergerakan lempeng bumi.
“Nah sebelum kita melakukan menganalisis untuk prediksi, itu (permodelan) harus dikalibrasi. Masalahnya kejadian yang seperti ini (pergerakan lempeng) ada di bawah yang sangat dalam. Ini agak susah bagaimana kita melakukan kalibrasi atau validasi dari model itu,” terangnya.
“Sampai saat ini memang belum ada penelitian yang bisa melakukan kalibrasi atau validasi terhadap pemodelan yang model seperti itu,” tandasnya.
Untuk itu, dia menilai ada tahapan yang belum dilakukan oleh pakar tsunami dari BPPT, Widjo Kongko. “Betul (ada tahapan yang belum lengkap). Kalau dia misalkan memasukkan data input untuk melakukan pemodelan itu, tapi pada saat model itu dirunning untuk mengeluarkan hasil, dan mengeluarkan hasil, kita harus melakukan kalibrasi supaya antara data lapangan dan data hasil simulasi bagaimana (hasilnya),” tambahnya.
“Lah ini kan yang kita enggak tahu, apakah beliau ini sudah melakukan tahapan kalibrasi sehingga data lapangan dengan data hasil simulasi itu tidak berbeda jauh. Sehingga itu yang harus kita kemukakan dulu sebelum melakukan aplikasi terhadap hasil model yang kita punya,” tutur dia.

“Kalau itu bisa valid di dalam proses kalibrasi, itu baru kita bisa percayai data masukan kita dan simulasi kita bisa mendekati kenyataan di lapangan, tidak harus sama persis di lapangan tapi paling tidak mendekati, yang namanya model itu kan tidak bisa sempurna dengan kejadian di lapangan, tapi paling tidak mendekati (hasilnya),” beber Thomas.
“Orang bisa memprediksi potensi segala macam itu ya silakan, tapi harus bisa bagaimana proses kalibrasi dari hasil running model itu dijalankan, supaya data lapangan yang kita masukkan dengan data hasil modelnya tidak berbeda jauh,” terangnya lagi.
Dosen Dasar-Dasar Permodelan itu kembali menyatakan akan kesulitan untuk mengamati pergerakan lempeng bumi. Berbeda dengan studi pengamatan pada bencana longsor atau penurunan muka air tanah akibat aktivitas pengambilan air tanah yang berlebihan.
“Ya itu sangat susah karena pergerakan lempeng itu tidak bisa kita lihat pergerakannya setiap saat, karena tidak ada yang bisa alat yang bisa memantau. Bagaimana lempeng samudra benua itu bergerak?,” tanya dia.
“Kalau yang lain, misalnya kita buat model yang lain itu bisa kita pantau misalnya pergerakan tanah, longsor itu ada data model, data lapangan, dan pengamatan. Dari situ inputting data kita lakukan model, itu bisa. Kemudian juga ada misalkan pemodelan penurunan muka air tanah akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, itu kalau kita modelkan itu bisa itu kalibrasikan melalui monitoring,” bebernya.
“Tapi kalau untuk melakukan data monitoring terkait dengan pergerakan lempeng itu kan kita enggak punya, alatnya belum ada. Jadi bagaimana kita bisa sampai memprediksi sejauh itu di dalam bumi berpuluh-puluh kilometer untuk tahu pergerakan lempeng itu,” tandasnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, sistem permodelan menggunakan suatu software yang akan mengolah data-data masukan. Meski demikian, Thomas mengaku tak mengetahui pasti jenis data masukan dalam permodelan yang dilakukan oleh Widjo Kongko.
“Simulasi itu kita memasukkan data input yang ada di lapangan. Kita masukkan ke dalam software, setelah itu baru kita running. Saya enggak tahu apakah Pak Widjo Kongko itu input datanya apa saja, kita juga tidak mengikuti, dia tidak menyampaikan itu. Kemudian dia merunning keluar hasil,” jelasnya.
Thomas juga menyampaikan, selama ini belum ada studi lain yang menyebut akan terjadi gempa besar yang diikuti tsunami dahsyat di Pantai Selatan Jawa. Sebab, berdasarkan fenomena tsunami yang perah terjadi, gelombang laut tidak sampai mencapai ketinggian puluhan meter.
“Ini harusnya sebelum publish harus dikalibrasi dulu, betul enggak itu seperti itu. Karena kalau kita melihat fenomena tsunami dan segala macem di Pantai Selatan Jawa ini tidak sampai pada 50 meter, pengalaman kemarin, atau sejarahnya pun juga enggak ada yang seperti itu,” ucap dia.
Menurut dia, selama ini juga belum pernah ada kejadian tsunami sesuai prediksi permodelan atau simulasi. Selain kesulitan mendapatkan data pengamatan pergerakan lempeng bumi, kebanyakan studi justru mengolah data berdasarkan suatu peristiwa bencana seperti tsunami.
“Biasanya simulasi itu kan setelah kejadian tsunami. Selama ini kita belum pernah ada studi yang bisa melakukan model, lalu model itu di-running kemudian terjadi (tsunami sesuai prediksi). Itu belum pernah ada,” tukasnya.
“Jadi kalau biasanya model yang mereka jalankan itu pada saat setelah kejadian. Setelah tsunami terjadi itu melakukan simulasi tsunami. Karena apa? Karena tidak punya alat yang bisa memprediksi pergerakan lempeng itu jauh di bawah permukaan bumi, tidak ada alatnya,” imbuhnya.
“Dengan demikian akan susah, karena kita juga bener-bener enggak tahu, enggak bisa kita amati pergerakan lempeng itu setiap saat. Kecuali kalau kita bisa amati pergerakan lempeng, baru kita teliti akan terjadi pergerakan lempeng sehingga menghasilkan gempa sekian, tapi kan enggak pernah,” tegas dia.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.