JAKARTA - Konferensi internasional ke-5 peneliti kehutanan Indonesia (INAFOR 2019) mengusung tema solusi inovatif pengelolaan hutan tropis dan pelestarian keanekaragaman hayati dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Acara yang digelar di IPB International Convention Center, Bogor (28/8) ini mengupas kebijakan dan best practices dari berbagai pakar kehutanan skala nasional dan internasional.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Litbang dan Inovasi (P3H – BLI), Krisfianti L. Ginoga menyampaikan, solusi inovatif diperlukan untuk mengelola dan mengurangi konsekuensi hilangnya hutan tropis dan keanekaragaman hayati pada ekosistem bagi manusia.
"Konferensi internasional ini digelar untuk mendapatkan umpan balik dari kebijakan dan manajemen, untuk menempa jalan-jalan penelitian baru, untuk menjadikan ilmu pengetahuan lebih berguna tepat waktu, dan untuk memahami bagaimana ilmu hutan dan keanekaragaman hayati dapat mengurangi ketidakpastian dan melayani inisiatif kebijakan dan manajemen dengan lebih baik. Semua ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Indonesia melalui KLHK terhadap kelestarian alam dan hutan di tingkat global” ujar Krisfianti.
Saat ini kata dia, ancaman terhadap penurunan keanekaragaman hayati terjadi pada hampir setiap ekosistem di dunia, termasuk ekosistem hutan. Dengan demikian, pengelolaan hutan harus berubah untuk memberikan dukungan kuat pada konservasi, penilaian dan pengelolaan keanekaragaman hayati, memerangi perubahan iklim, dan berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG’s). “Sehingga semua tindakan mudah dikomunikasikan dan dapat diterapkan secara universal ke semua negara,” tutur Krisfianti.
Untuk itulah, Krisfianti memandang peran ilmu pengetahuan dan inovasi sangat penting, dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati.