JAKARTA - Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan, dalam lima hari terakhir tercatat masih ada 52 ribu konten provokasi dan hoaks terkait dengan Papua dan Papua Barat.
Oleh sebab itu, Dedi menyatakan, masih tingginya provokasi di media sosial (medsos) menjadi salah satu faktor dibatasinya akses internet di Papua dan Papua Barat. Faktor lainnya yakni situasi yang kondusif dan aman.
"Dari tanggal 28 Agustus sampai 1 September ada 52 ribu konten hoaks. Dengan pertimbangan itu makanya dibatasi dulu (internet dan komunikasi)," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (3/9/2019).
Baca juga: 2 Tersangka Penyebaran Hoaks Asrama Papua Ditahan 20 Hari ke Depan
Angka tersebut, kata Dedi, meningkat sebesar 20 ribu konten. Pada rentan waktu 14 hingga 27 Agustus, tercatat 32 ribu konten provokatif dan hoaks menyebar di media sosial.
"Lima hari naik 20 ribu. Kalau masuk kesana (Papua) bisa jadi apa," ujar Dedi.

Pada periode awal, media sosial facebook mendominasi konten provokatif dan hoaks. Namun dalam periode kedua media sosial twitter yang mendominasi.
Baca juga: Polisi Tangkap Pembuat Konten SARA Papua di Sumsel
Hal tersebut, lanjut Dedi, membuktikan pihak elit asing dan dalam negeri sudah bermain dikalangan menengah.
"Setelah dicek twitter mendominasi baru FB. Twitter berarti bukan melibatkan golongan akar rumput. Akar rumput sudah redam jadi mereka mainnya sudah middle sama elit baik di dalam negeri maupun luar negeri yang mencoba membakar lagi," katanya.