Termotivasi Setelah Teringat Ibu Kandung
Lebih jauh Serka Iswandi menceritakan kerinduan terhadap ibu kandunganya yang telah tiada mengingatkan dirinya akan keberadaan dan nasib anak yatim-piatu serta kalangan duafa yang terdiri dari janda-janda tua di seputaran rumahnya. Ia menyebut hal itu membuat hatinya tergugah dan merasa gundah hingga memutuskan rutin memberikan bantuan.
"Saya sering rindu almarhum ibu saya yang sudah meninggal dan tidak terasa sering air mata ini menetes. Dalam pikiran dan hati saya bergejolak memikirkan ank-anak itu bagaimana makan mereka? Bagaimana sekolah mereka? Bagaimana pergaulan mereka ? masa depan dengan kehidupan mereka? Sering saya puasa dan berdoa izinkan saya yaa Allah berbuat sesuatu untuk anak yatim-piatu dan duafa."

Nama Yayasan Diambil dari Anak dan Restu Keluarga
Nama Yayasan Fajar Qolbi, jelas Serka Iswandi, diambil dari anak sulungnya yang mengikuti pendidikan Scaba TNI AL setelah musyawarah bersama keluarga. Ia juga mengaku restu dari keluarga besarnya mengiringi langkah dalam mendirikan yayasan.
"Ketika musyawarah keluarga, istri saya sembari menangis spontan menjawab ikhlas dan rida. Saya tanya kepada anak yang pertama, bolehkah saya mendirikan yayasan dengan mengambil nama awalnya, anak saya jawab ikhlas. Bahkan, anak saya yang kedua waktu saya tanya, jawabnya senang, katanya banyak teman," beber Serka Iswandi.
Tidak sampai di situ, ia mengaku dengan berbekal restu dari keluarga, dirinya nekat bertanya sana-sini dan memohon restu kepada para ulama setempat serta notaris hingga pengurus dan pengelola untuk melegalkan secara hukum Yayasan Fajar Qolbi.
"Saya memohon restu ulama dan tanya ke notaris seputar persyaratan mendirikan yayasan. Karena waktu itu saya juga belum ada dana. Saya kumpulkan warga untuk membuat struktur yayasan. Alhamdulillah, saya dapat rezeki untuk ke notaris. Proses tiga bulan lebih SK Yayasan Fajar Qolbi keluar," terangnya.