Desa Terpencil dengan Segala Fasilitas
Meskipun berada di daerah terpencil dan jauh dari dunia luar. Pada jaman penjajahan Belanda, semua fasilitas di desa tersebut sudah lengkap.
Hal tersebut ditandai dengan masih ada bekas bangunan perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau, milik Kolonial Belanda. Di mana perusahaan itu masuk ke Batavia Kecil untuk menguasai tambang emas, sekira tahun 1904.
Pada zaman itu di Batavia Mini atau Batavia Kecil juga di bangun kamar bola atau tempat bermain biliar. Lalu, lapangan Basket, lapangan Tenis, bangunan rumah Kuning atau Rumah Bordil/Lokalisasi. Tidak hanya itu, bangunan rumah sakit, Helipad tempat Helikopter mendarat, mini market dan Bioskop.

Peninggalan jaman Kolonial Belanda itu masih berdiri kokoh di desa yang didiami oleh sekira 680 jiwa. Namun, untuk bangunan bioskop dan rumah kuning sudah tidak ada.
Saat ini bangunan peninggalan jaman Kolonial Belanda itu sudah menjadi inventaris desa. Hal ini ditandai dengan warga yang menjadikan bangunan peninggalan sebagai tempat tinggal mereka.
Pada zamannya, perusahaan tambang emas di Batavia Kecil mendatangkan penari ronggeng yang berasal dari Batavia (sekarang, Jakarta). Pendatangan penari itu dilakukan perusahaan setiap tahun.
Pendatangan penari ronggeng tersebut melekat pada sebuah nama jembatan menuju Lebong Tandai. Jembatan Dam Ronggeng I dan Ronggeng II, namanya.
Pemberian nama Dam Ronggeng bermula dari Kolonial Belanda yang mengundang penari Ronggeng dari Batavia. Sehingga nama jembatan tersebut diberi nama jembatan Dam Ronggeng.
Pendatangan penari ronggeng terus berlanjut. Bahkan, penari Ronggeng menjadi sebuah hiburan bagi penduduk Batavia Kecil.
Hiburan penari Ronggeng itu pun berakhir kisaran tahun 1970-an. Di mana di desa ini pada jamannya terdapat tiga kelompok musik. Anior, Trinada dan Puspa Ria, namanya.