SEMARANG - Provinsi Jawa Tengah (Jateng) telah mendata 2,5 juta petani untuk kepemilikan kartu tani. Dari total 2,8 juta petani, tinggal 300 ribu petani yang saat ini belum terdata atau masuk dalam big data kartu tani.
“Kami terus mengejar pendataan dengan mempercepat program Kartu Tani. Saat ini hanya kurang 300 ribu petani saja yang belum menerima kartu tani. Bulan ini, sudah ada 194.871 kartu yang dalam proses pembagian,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng Suryo Banendro, pada senin 23 September 2019.
Suryo menerangkan, kartu tani selain untuk memastikan pemberian subsidi pada petani tepat sasaran, juga merupakan data real petani. Seperti jenis cocok tanaman, luas lahan, dan lokasinya. Hal itu berguna untuk memantau produksi pertanian Jateng dengan baik.
“Sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil akan sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Suryo.
Pihaknya menargetkan dalam waktu yang tidak lama, semua petani di Jateng sudah mendapatkan kartu tani. Mereka juga akan terus mensosialisasikan tentang penggunaan dan manfaat dari kartu tersebut.
Di Jateng, program Kartu Tani yang diluncurkan pada 2015 lalu oleh Gubernur Jateng bukan hanya untuk memudahkan para petani dan bicara soal pembagian pupuk bersubdisi saja. Namun lebih dari itu, program itu adalah upaya pendataan petani di Jawa Tengah sesuai kondisi di lapangan.
“Program tersebut pun sebenarnya adalah pendataan untuk mengetahui siapa, tanam apa, di mana dan berapa luasannya, untuk kemudian diambil kebijakan yang sesuai bagi mereka,” jelas Suryo.
Dalam beberapa kesempatan lain, Gubernur Ganjar menegaskan program kartu tani bukan hanya berbicara soal pupuk bersubsidi, namun lebih pada pendataan petani di lapangan.
Menurutnya, data pertanian itu penting untuk menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan.
“Saat ini, hanya Jawa Tengah yang memiliki data pertanian terlengkap yang tidak dimiliki daerah lain. Mulai data siapa petaninya, di mana lokasinya, dia tanam apa, berapa luasannya dan lain sebagainya," kata Ganjar.
Data-data tersebut, tambah Ganjar, sangatlah penting untuk dasar pengambilan kebijakan soal pertanian Jateng dan Indonesia di masa yang akan datang.
Tak heran bila akhirnya Kementerian Pertanian (Kementan) menobatkan program kartu tani Jawa Tengah termasuk 3 provinsi terbaik se-nasional. Penobatkan itu dilakukan dalam pertemuan perencanaan kebutuhan pupuk berbasis e-RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) di Banjarmasin, beberapa waktu lalu.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, program Kartu Tani Jateng dinilai paling baik dibanding daerah lain karena sejumlah faktor. Di antaranya implementasi penyaluran, tingkat implementasi penggunaan, hingga upload e-RDKK sebagai database kartu tani.
"Penghargaan ini akan menjadi penyemangat untuk menyukseskan program kartu tani. Juga untuk menginspirasi daerah-daerah lainnya agar lebih menggenjot program kartu tani,” ujar Sarwo Edhy.
“Seluruh program kartu tani nasional kemarin dievaluasi. Dan Jateng yang terbaik dari segi implementasi, transaksi, hingga penyusunan e-RDKK sebagai basis data program kartu tani itu,” tambahnya.
Di tingkat implementasi penyaluran kartu tani, lanjut Sarwo Edhy, Jateng menjadi satu-satunya provinsi yang menyalurkan kartu tani ke seluruh petani di kabupaten atau kota. Total ada 35 kabupaten dan kota se-Jateng menjadi sasaran dari program Kartu Tani itu.
“Hingga saat ini, sudah ada 2,5 juta dari 2,8 juta petani Jateng yang telah mendapatkan kartu tani. Ini merupakan reputasi yang luar biasa," pungkas Sarwo Edhy. (ADV) (Wil)
(Risna Nur Rahayu)