MALANG – Pasca-penganiayaan 10 siswa SMK 2 Muhammadiyah di Malang, Jawa Timur oleh seorang motivator beberapa waktu lalu, polisi mendatangkan psikolog Polri ke rumah para korban sebagai upaya trauma healing.
Meski pelaku sudah ditangkap Polres Malang, nyatanya rasa trauma tindak kekerasan tidak hilang begitu saja dari benak para korban. Selain luka lebam akibat tamparan, korban juga merasa malu karena ditampar di depan puluhan teman. Parahnya, beberapa korban ini ada yang belum kembali bersekolah pasca-kejadian.
Maka dari itu, Psikolog Polri dan petugas Polres Malang Kota melakukan kegiatan trauma healing, Minggu (20/10/2019) dengan mendatangi rumah korban, sebagaimana diberitakan iNews.id. Selain memberikan pelayanan penanganan trauma, polisi juga ingin melihat secara langsung kondisi psikologi para korban.

Menurut salah satu orang tua korban, Senan, dirinya merasa tidak tega melihat anaknya dipukul orang lain. Dia mengaku tidak pernah memukul anaknya sejak kecil.
“Sekarang saya sudah tenang dengan adanya trauma healing ini, mungkin besok anak saya sudah bisa masuk sekolah,” katanya.
Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander mengatakan tujuan trauma healing ini untuk mengembalikan kondisi mental para korban yang sempat sakit dan malu. Menurutnya, kondisi ini bahaya bagi kelanjutan kejiwaan korban jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
“Petugas atau psikolog ini akan memberikan konseling agar korban tetap semangat, melupakan kejadian kemarin dan tetap berprestasi di sekolah,” kata Dony.
Rencananya, pelayanan konseling ini akan dilakukan bertahap dan terus menerus sampai dinilai siswa sudah kembali normal seperti biasanya.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.