JAKARTA - Selama 25 tahun berkutat di bidang agribisnis, Taryana yang membudidayakan ubi cilembu secara organik di Sumedang, berhasil menembus pasar ekspor sejak 2000. Berbekal sertifikat organik dan sertifikat karantina, produk “Honey Sweet Potato” miliknya menjadi favorit warga Singapura, Hongkong dan Malaysia.
Permintaan ekspor ubi cilembu organik milik Taryana per bulan ini mencapai 12-40 ton. Seluruhnya berasal dari lahan yang dikelolanya sendiri dan lahan petani plasma yang mencapai 45 Ha.
Ubi cilembu (Ipomoea batatas (L.) Lamb.) merupakan salah satu jenis ubi jalar yang sangat disukai masyarakat lokal dan mancanegara karena karakternya yang khas, yaitu getah pada umbinya akan meleleh seperti madu jika dipanggang dalam oven. Si umbi madu ini memiliki kandungan gizi serta vitamin A yang lebih tinggi dibanding umbi jenis lain. Ubi cilembu dapat dijadikan pengganti nasi karena mengandung karbohidrat, dan memiliki serat tinggi.
Penerapan budidaya ubi cilembu organik yang bebas pestisida dan bahan kimiawi oleh Taryana ini menjadi nilai tambah dan magnet konsumen luar negeri untuk membeli produk ubi cilembu ini.
“Biasanya setiap negara tujuan berbeda-beda permintaannya, ada yang minta ubinya sudah dihaluskan, dipotong dan rebus, ada yang minta masih segar, dan ada juga yang dibuat manisan ubi cilembu dalam toples. Kami selalu memenuhi permintaan konsumen dan itulah yang membuat bisnis kami ini masih terus berlanjut hingga saat ini,” terang Taryana.