“Harga ekspor berkisar Rp9.000 hingga Rp15.000 per kg nya. Tapi kami juga tetap mensuplai pasar lokal dengan harga yang lebih terjangkau yaitu Rp5.000 hingga Rp10.000 per kg tergantung kualitasnya,” tambah Taryana.
Selain mengantongi sertifikat organik dan karantina, bisnis Taryana juga bersertifikat P-IRT.
Selama menekuni agribisnis ubi cilembu, Taryana rajin mengikuti berbagai pameran hingga mendapat kesempatan berharga untuk magang selama 1 tahun di Jepang. Disana dia mempelajari budidaya hingga pemasaran ubi jalar. Sekembalinya ke Indonesia, Taryana menerapkan ilmu yang didapat, dan hasilnya tahun 2000 berhasil ekspor perdana ke Singapura dan disusul pada tahun 2006 ke Jepang.
Tak hanya pengalaman manis yang didapat, Taryana juga punya kisah pahit selama berbisnis ubi cilembu. “Bahkan pernah uang kami busuk sia sia, dalam arti satu container tidak dapat diuangkan tapi dibuang akibat alat pendingin dikapal mati sehingga ubi terfermentasi dan membusuk,” tandasnya.
Namun hal tersebut dijadikan sebagai pemecut semangat untuk memperbaiki proses bisnis. “Selama manusia tidak makan dari bahan sintetis, hasil pertanian akan tetap laku dan dibutuhkan masyarakat. Jadi jangan malu menjadi petani karena petani memiliki peluang besar sukses di kehidupan dunia dan akhirat," pungkasnya.