KUCHING - Di mana saja anak-anak Indonesia berada, tetaplah anak Indonesia yang memiliki hak untuk mendapat pendidikan layak. Begitu pula anak-anak Indonesia yang berada di perkebunan atau ladang sawit di Negeri Sarawak, Malaysia. Mereka memiliki potensi untuk berhasil dan sukses dalam membangun negerinya nanti.
Hal inilah yang dikatakan dan yang memotivasi Eko Yudi Setiawan, seorang guru asal Indonesia untuk mengabdikan dirinya sebagai tenaga didik bagi anak-anak Indonesia di Sarawak.
"Ikut berperan dan terjun langsung dalam mengasah mutiara-mutiara bangsa untuk dapat 'pulang' menjadi anak-anak generasi penerus yang berhasil merupakan motivasi kami di sini," ujar Eko kepada Okezone, belum lama ini.
Pria asal dari Cirebon, Jawa Barat ini adalah guru di Community Learning Center (CLC) Sebakong Mukah, Sarawak, Malaysia. CLC sendiri adalah institusi pendidikan yang menyediakan akses pelayanan pendidikan dasar (SD) bagi anak-anak pekerja ladang berkewarganegaraan Indonesia yang berada di beberapa wilayah di Malaysia.

Di setiap CLC, ada dua jenis guru. Yakni, Guru Pamong merupakan guru yang diangkat dan digaji oleh perusahaan sawit di mana CLC itu berada. Yang kedua adalah Guru Bina, yakni merupakan guru yang diutus oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) setelah melalui tahapan seleksi di Indonesia.
Eko yang merupakan lulusan dari Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung jurusan Pendidikan Akuntansi ini adalah salah seorang dari 23 Guru Bina yang dikirim Kemendikbud dan mendapat tugas di Sarawak, Malaysia.
"Saya sudah enam tahun menjadi guru di CLC. Lima tahun menjadi guru CLC di Sabah Malaysia sejak Desember 2011 sampai dengan Desember 2016. Dan baru setahun sejak akhir November 2018 saya ditugaskan di CLC Sebakong Mukah, Sarawak sampai saat ini," tuturnya.
Lima tahun di Sabah, kata Eko, merupakan bekal untuk "berlari" di Sarawak dan dapat turut aktif bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching serta Koordinator Pendidik wilayah Sarawak dalam pendirian beberapa CLC di kawasan Sarawak.
"Hal ini dilakukan juga oleh seluruh Guru Bina di Sarawak karena memang hampir seluruh Guru Bina yang dikirim ke Sarawak memiliki pengalaman mengajar di Sabah," jelasnya.
Di CLC Sebakong ini, Eko dibantu oleh seorang Guru Pamong, yakni Wahyuni. Mereka berdua mengajar seluruh jenjang kelas dari kelas satu sampai kelas enam dalam satu ruangan yang sama tanpa sekat. "Jadi kami membagi dalam dua bagian yaitu kelas rendah (1-3) SD dan kelas tinggi (4-6) SD. Dan mengajar dalam waktu yang bersamaan," papar Eko.

Saat ini, total murid di CLC Sebakong Mukah berjumlah 45 murid. Eko pun optimis jumlah ini akan bertambah seiring sosialisasi yang dilakukan kepada orang tua murid untuk dapat menyekolahkan anaknya. Apalagi Eko juga membina CLC Judan dengan 29 murid yang jaraknya berdekatan serta akan membuka satu sekolah kembali di ladang yang lain.
"Jadi, setiap Guru Bina di Sarawak ini diberi tanggung jawab untuk mengajar dan membina lebih dari satu sekolah," kata Eko.
Hasil tak akan mengkhianati perjuangan. Seperti itulah yang dirasakan Eko dan guru-guru lainnya di Sarawak. Betapa tidak, insentif dari pemerintah dalam hal ini Kemendikbud untuk Guru Bina memang jumlahnya lebih besar dari yang didapatkan oleh guru di Indonesia pada umumnya.
"Insentif jumlahnya lebih besar dari guru di Indonesia. Tapi kami di sini dikontrak selama dua tahun untuk mengajar. Namun ada opsi perpanjangan jika memang memenuhi kelayakan," kata Eko.
Lalu, bagaimana jika kontrak Guru Bina habis? Maka mereka akan kembali ke Indonesia dan kembali mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dengan insentif versi Indonesia tentunya. "Kalau kontrak habis dan tidak diperpanjang, saya kembali ke Indonesia. Mengajar di sana. Sama dengan istri saya yang juga guru dan sudah mengabdi di Indonesia," tuturnya.
Tak hanya bicara soal insentif yang jauh lebih besar di Indonesia, Eko sebenarnya merasa bangga ketika melihat anak-anak ladang di tempatnya mengajar dapat meraih prestasi luar biasa yang tidak kalah dengan anak-anak yang bersekolah di kota-kota besar di Indonesia. "Mengajar dan mendidik di CLC memang unik. Keterbatasan fasilitas atau jauhnya jarak yang ditempuh bukan menjadi kendala," ucapnya.
Namun, sambung Eko, duka datang ketika mendengar salah satu murid tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena akan dinikahkan oleh orangtuanya ataupun harus bekerja untuk membantu orangtuanya.
"Ya, dinikahkan! Beberapa orangtua menikahkan anaknya pada rentang umur 14-15 tahun atau usia SMP. Memang beberapa permasalahan anak-anak di sini adalah rendahnya motivasi untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun alangkah bahagianya jika mendengar beberapa anak didik yang dahulu masih kecil dan polos sekarang sudah berada di universitas ternama di Indonesia," ujar anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Dalam momentum Hari Guru ini, Eko berharap kepada pemerintah untuk lebih menghargai para pejuang pendidikan. Berikan kesejahteraan yang layak kepada mereka, berikan perlindungan kepada setiap guru dalam menjalani tugasnya. "Bangun negara Indonesia dengan dasar pendidikan. Karena hanya dengan pendidikan lah nasib bangsa dan masyarakatnya akan berubah," ucap bapak satu anak ini.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.