nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Suhu Panas Terjadi di Yogyakarta, Ini Penjelasan BMKG

Kuntadi, Jurnalis · Selasa 03 Desember 2019 13:58 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 03 510 2137376 fenomena-suhu-panas-terjadi-di-yogyakarta-ini-penjelasan-bmkg-WXjLwJoVxT.jpg Ilustrasi cuaca (Foto: Ist)

SLEMAN – Suhu udara di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dirasakan cukup panas. Tidak hanya pada siang hari, pada malam hari pun dirasakan cukup gerah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melihat kondisi ini karena kandungan uap air yang tinggi. Hasil pantauan BMKG, pada malam hari cuaca di DIY antara 23 sampai dengan 24 derajat celcius. Sedangkan pada malam hari, bisa mencapai 31-32 derajar celcius.

“Suhu minimum pada malam sampai pagi hari berkisar 23-24 derajat celcius sedangkan maksimum di siang hari mencapai 31-32 derajat,” ujar Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Etik Setyaningrum, Selasa (3/12/2019).

Baca Juga: Hujan Es dan Angin Kencang Terjang Klaten, Belasan Rumah Rusak

Ilustrasi Foto: Ist

Kondisi panas ini disebabkan adanya adanya kandungan uap air (RH) yang cukup besar di udara. Hal ini menyebabkan adanya proses penguapan hingga pembentukan awan. Adanya penutupan awal ini, menyebabkan radiasi balik bumi ke atmosfer tertahan oleh awan. Akibatnya, tidak bisa keluar bebas ke angkasa tetapi dipantulkan kembali ke bumi.

“Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di bumi terasa lebih gerah,” ujarnya.

Hasil pantauan curah hujan hingga dasarian 3 bulan November, kata Etik, hujan di wilayah Yogyakarta umumnya hujan yang terjadi masih spot-spot tertentu atau belum merata. Hujan paling banyak terjadi di wilayah Sleman dan Kulonprogo khususnya bagian utara hingga tengah. Dari catatan di BMKG Staklim Mlati, curah hujan mencapai di atas 50 mm/dasarian.

“Diprediksi curah hujan sedikit demi sedikit akan mulai meningkat dibulan Desember,” tuturnya.

Bila dilihat dari kondisi iklim, maka curah hujan hingga akhir November ini masih kategori rendah-menengah. Dibandingkan dengan kondisi normal, maka musim hujan tahun ini mengalami kemunduran hingga 2-3 dasarian. Untuk itulah masyarakat harus mewaspadai kemungkinan terjadinya hujan dibulan Desember ini. Khususnya hujan dalam kategori sedang hingga lebat yang berpotensi disertai petir dan angin kencang.

“Kami minta masyarakat untuk memotong cabang pohon yang sudah tua agar tidak roboh,” katanya.

Baca Juga: Peralihan Musim, BMKG: Semua Wilayah Siaga Potensi Hujan Ekstrem hingga Puting Beliung

Sementara itu pada Senin 2 Desember 2019 hujan disertai angin kencang mengguyur wilayah Prambanan, Sleman. Akibatnya, sejumlah pohon tumbang dan menimpa rumah dan menutup jalan. Selain itu, ada juga sebagian atap rumah warga yang terbuat dari asbes yang ikut terbawa angin.

“Ada 28 titik di desa Bokoharjo, Madurejo dan Sumberharjo,” ujar Kasi Kegawatdaruratan BPBD Sleman, Makwan.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini