JAKARTA - Beberapa pekan lalu media sosial (medsos) dihebohkan dengan viralnya video yang diduga puluhan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) tengah direndam ke dalam got.
Peristiwa itu terjadi diduga sebagai salah satu syarat bagi para pegawai untuk melakukan perpanjangan kontrak sebagai honorer K2 dan non-K2 di Pemprov DKI.
Rafli Dwi Muchamat, sudah tiga tahun bergabung sebagai petugas UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Selama tiga tahun itu, ia berjaga di Pos Jembatan Kampung Melayu bersama petugas Sumber Daya Air (SDA) bagian pompa. Banyak hal yang ia lewati selama bertugas baik suka, duka, ataupun hal yang membuatnya mawas diri.

Ia menceritakan, dirinya merasa senang jika bisa memberikan informasi kepada warga agar bisa mengantisipasi apabila terjadi banjir.
“Sukanya sih ya bisa berikan informasi ke warga di bantaran sungai yang rawan banjir. Kalau air mau naik atau ada kiriman dari Depok atau Katulampa jadi bisa antisipasi sebelumnya,” tuturnya kepada Okezone, Kamis 26 Desember 2019.
Pihaknya memang memberikan informasi secara langsung apabila ada kenaikan permukaan air kepada Ketua RT dan RW agar disampaikan ke warga. Tapi dari pihak BPBD dan kelurahan pun sudah ada yang langsung menginfokan juga. Selain itu sejumlah titik rawan banjir pun telah dipasang alarm yang berfungsi sebagai peringatan dini di beberapa permukiman penduduk bantaran kali.
Rafli menceritakan, ia dan teman-temannya juga bekerja sama dengan PPSU, SDA, dan Satgas Binamarga untuk membersihkan saluran air yang mampet dan terjadi genangan.
“Kalau ada genangan di jalan bisa bantu lancarin lalu lintas. Kita kerjain semampu kita bareng PPSU, SDA, dan Satgas Binamarga. Apalagi kalau jam pulang atau berangkat kerja yang tadinya pulang cepet jadi lama di jalan karena banjir,” katanya.

Baca Juga : Sepanjang 2019, Bengkulu Diguncang 787 Kali Gempa
Baca Juga : Siaga Banjir, Pemprov DKI Siapkan 4.000 Satgas dengan Gaji Rp8 Juta/Bulan
Tidak hanya menceritakan suka saja, Rafli pun menceritakan dukanya sebagai petugas UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Ia mengatakan kalau sering menggunakan pakaian basah saat bekerja karena hujan dan tidak bawa baju ganti.
“Dukanya ya, kadang pas malem hujan kita harus bersihkan lokasi yang tergenang. Udah pake jas hujan, seragam masih tetep basah kuyup, nggak bawa salinan (baju ganti) seragam buat ganti. Jadi mau nggak mau dipakai sampai pagi,” terangnya.
Dirinya pun hanya pakai jas hujan bila seragamnya basah. Terkadang, seragamnya ia jemur seragamnya itu di pos agar paginya bisa dikenakan lagi.
“Kalau masih hujan ya mau nggak mau buka (seragam). Diperes dulu terus dijemurjemur seadanya. Diangin-anginin di pos. kita pakai jas ujan sementara. Sukur-sukur pagi sudah kering bisa dipakai buat jalan ke absenan,” tuturnya.

Karena harus selalu siaga, terkadang dia baru bisa pulang setelah keadaan genangan air surut. Sesuai dengan slogan UPK Badan Air Dinas Lingkunngan Hidup DKI “Pantang Pulang Sebelum Bersih,” Rafli dan rekan-rekannya baru dapat pulang apabila lokasi genangan sudah kondusif.
“Kadang baru bisa pulang setelah semuanya selesai dan kondusif sesuai slogan kita ‘Pantang Pulang Sebelum Bersih’,” pungkasnya.
Tidak hanya suka dan duka saja yang Rafli lalui, bahkan banyak kejadian yang membuatnya mawas diri dan bekerja lebih ekstra dari biasanya.
“Pemukiman di bantaran Ciliwung sering ada tawuran setiap malam, saya takut kena sasaran. Suka bawa senjata tajam dan petasan kan soalnya,” terang Rafli saat masih tinggal di bantaran Ciliwung.
Ia menceritakan kalau antar warga kampong yang sering tawuran, sedangkan tawuran pelajar sudah tidak dia temukan. “Hampir setiap malam ada jadwalnya, 4 kampung ganti-gantian setiap malam. Semalam saja sudah tawuran lagi. Sebelumnya agak reda pas abis ada yang kebacok,“ ujar Rafli.
Ia juga menceritan pernah melakukan pencarian korban hanyut di Ciliwung lebih dari seminggu. Korban adalah anak tetangganya saat di bantaran Ciliwung. Padahal saat itu Rafli bersama rekannya sedang bertugas di Ciliwung, namun tidak ada satupun dari mereka yang melihat anak tersebut.
“Anak tetangga dulu pernah jadi korban. Padahal enggak jauh dari saya sama yang lain lagi kerja dan lagi rame juga gak ada yang liat. Enggak ada yang engeh anak itu kecebur dan teriak minta tolong,” jelasnya.
Setelah melakukan pencarian selam seminggu lebih, korban hanyut itu ditemukan di tumpukan sampan Muara Angke.
“Anak ini meninggal setelah seminggu lebih pencarian kalau nggak salah. Baru ketemu di tumpukan sampah Muara Angke. Itu juga minta tolong banget sama team Komunitas Rescue Condet buat terus lanjut pencarian. Kalau dari Damkarkan standarnya 3 hari doang,” tutupnya.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.