nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kalangan Difabel Curhat ke Gibran soal Akses Tak Ramah Disabilitas di Solo

Bramantyo, Jurnalis · Kamis 23 Januari 2020 18:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 23 512 2157330 kalangan-difabel-curhat-ke-gibran-soal-akses-tak-ramah-disabilitas-di-solo-KwWNi8egvI.jpg (Foto: Okezone.com/Bramantyo)

SOLO - Bakal calon wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka mendengarkan keluhan dan masukan dari penyandang disabilitas, saat menghadiri Sarasehan Bersama Keluarga Difabel Kota Solo di Aula Ndalem Daryonegaran, Jalan Gajah Suranto No. 7, Carikan, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Kamis (23/1/2020).

Kehadiran putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu pun disambut salah satu tokoh disabilitas Kota Solo, Slamet Widodo. Merespons sambutan itu, Gibran membantu mendorong Slamet yang berada di kursi rodanya hingga ke Aula Ndalem Daryonegaran.

Slamet dari Komunitas Perkumpulan Motor Difabel Indonesia (PMDI) menyampaikan keluhannya soal fasilitas publik yang dinilainya tak ramah terhadap difabel. "Soal aksesibilitas di lingkungan kelurahan atau kecamatan sepertinya kurang responsif, kami pengguna kursi roda ini enggak diajak bicara. Mau naik saja ke kelurahan atau tempat-tempat pelayanan harus bengak-bengok (berteriak) minta didorong. Tolong diperbaiki pelayanannya kalau Mas Gibran jadi (wali kota)," ungkapnya.

(Foto: Okezone.com/Bramantyo)

Penyandang disabilitas tunadaksa lainnya, Tegar juga mengeluhkan soal akses bagi difabel di Kota Solo yang dirasa terbatas. "Solo katanya inklusi tapi kok kesannya hanya kata-kata saja. Solo itu ikonnya gladak. Dulu waktu jalan masih di aspal, kami pemakai kursi roda ini nyaman. Sekarang dipaving langsung gembrobyos (bermandikan keringat). Tolong kami juga diberi akses yang nyaman," ujarnya.

Suami Selvi Ananda itu mengaku keluhan dari penyandang disabilitas sudah masuk dalam visi-misi rancangannya. "Baik, terima kasih sekali atas masukannya. Sudah saya catat dan beberapa masukan di sini sudah saya rancang di visi misi saya," ujar Gibran.

Sementara itu, Pikat selaku pencetus istilah difabel berharap acara ini dapat menyerap masukan maupun keluhan yang dialami kalangan difabel selama ini."Tahun 2008 di Solo sudah ada Perda soal difabel, dengan hak-hak difabel di dalamnya. Kemudian lahirlah gerakan 2011 ideologi kenormalan. Kami mengampanyekan baik difabel dan nondifabel untuk memandang dirinya adalah normal. Kenormalan kami berjalan pakai alat bantu, itu yang kami kampanyekan," ucapnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini