Setelah membaca semua isi berita, aku pun memulai menulis berita tersebut. Berlembar-lembar kertas habis aku gunakan hanya untuk mengetik satu berita.
Maklum, saat itu, belum ada yang namannya komputer apalagi gadget seperti saat ini. Setelah berusaha keras, akhirnya satu berita tentang muscab KNPI itupun selesai aku buat.
Setelah selesai, berita itupun aku setorkan ke redaktur. Setelah diteliti, ternyata masih saja ada beritaku yang ngawur dan kacau balau.
Akhirnya aku diminta untuk mengulang kembali menulis berita. Dengan bimbingan dari redaktur kala itu, akhirnya naskah beritaku selesai sudah.

Namun sayangnya, media itupun gulung tikar. Hingga akhirnya aku pun berlabuh ke sebuah media harian lokal di Solo.
Proses perpindahanku dari majalah ke koran ini pun tak semudah membalikan tangan. Apalagi, koran yang terbit tiap hari berbeda dengan majalah.
Dengan modal jurnalis yang belum begitu banyak, sambil mengucapkan "Bismillah" aku mulai menekuni dunia jurnalis yang sesungguhnya.
Saat awal bergabung di harian umum di kota Solo ini, aku ditempatkan di wilayah Boyolali. Wilayah yang jauh dari tempat tinggalku sendiri, yakni Karanganyar. Setiap hari, aku berangkat ke Boyolali, dengan menggunakan motor dua tak, dari Karanganyar menuju wilayah kerjaku di Boyolali.
Sebagai pemula, wilayah kerjaku di Boyolali, berada di Kejaksaan dan Pengadilan. Seperti seorang jaksa, akupun tiap hari selalu "ngantor" di Kejaksaan.
Di Kejaksaan, aku harus berpikir bagaimana caranya bisa memenuhi target kuota berita satu bulan sebanyak 90 berita.