Tanpa Kenakan Baju, Ambil Gambar Kepanikan Warga Bengkulu
Hery merupakan satu dari 18 kontributor dan koresponden, media nasional di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''. Pengalaman dia tidak hanya sebatas nyaris kehilangan nyawa, ketika liputan bentrokan di Jakarta Selatan.
Ayah dari M Rais Supandi, pernah merasakan liputan bencana gempa berkekuatan dahsyat di Bengkulu. Pada Rabu 12 Septembe 2007, persisnya. Gempa dengan kekuatan Magnitudo 8,4.
Saat guncangan gempa, Hery telah menjadi koresponden SCTV untuk Bengkulu. Ketika gempa terjadi dia bersama istri dan anaknya sedang bersilaturahmi di rumah orangtuanya, di Kelurahan Kebun Beler, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.
Gempa menjelang azan Magrib itu membuat panik masyarakat Bengkulu. Mereka berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Termasuk Hery Supandi bersama keluarganya.

Tanpa pikir panjang, Hery berlari menuju ke simpang lima Ratu Samban, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu. Hanya mengenakan celana pendek, tanpa baju yang menempel di badan.
Naluri seorang jurnalis pada diri Hery, membuat dia tetap mengambil gambar. Kepanikan masyarakat Bengkulu yang berlarian menyelamatkan diri. Pengalaman itu masih membekas pada diri Hery. Di tengah-tengah bencana musti memberikan laporan ke kantor.
''Gempa 2007, saya berlari ke simpang lima. Saat berlari terpikir untuk mengambil gambar,'' cerita pria kelahiran Bengkulu, 8 Mei 1977 ini.