WNI di Singapura Memilih Tenang Daripada Panik Menghadapi Virus Korona

Rachmat Fahzry, Okezone · Rabu 12 Februari 2020 10:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 12 18 2167138 wni-di-singapura-memilih-tenang-daripada-panik-menghadapi-virus-korona-HLdmnKk2EC.jpg Sejumlah warga Singa[ura antre beli bahan makanan antisipasi penyebaran virus korona. (Foto/Twitter baim_official)

JAKARTA – Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Singapura mengatakan bahwa kepanikan akan membuat situasi lebih buruk, di tengah wabah virus korona jenis baru yang telah menginfeksi 47 warga yang tinggal di negeri singa tersebut.

Lupi Hariarti, perempuan Indonesia yang sudah tinggal selama 6 tahun di Singapura, kepada Okezone, Selasa 11 Februari 2020, bahwa pemerintah Singapura mengimbau kepada warganya untuk tidak panik.

Sebelumnya, foto-foto dari Strait Times, media yang berbasis di Singapura, menunjukkan sejumlah warga antre untuk membayar makanan di supermarket. Terlihat pula rak-rak beras dan mi instan, banyak yang kosong.

Foto/Strait Times

Singapura juga telah menaikkan level kondisi Sistem Respons Wabah Penyakit (DORSCON) dari Kuning menjadi Oranye merespons virus korona Sabtu 8 2020.

DORSCON Oranye berarti bahwa virus korona saat ini dianggap parah dan menyebar dengan mudah dari orang ke orang, tetapi belum menyebar luas.

Baca juga: Status Virus Korona Singapura Naik Jadi Oranye, Kegiatan di Luar Sekolah Dihentikan

Baca juga: Pemerintah Singapura Rahasiakan Identitas WNI Positif Korona

Lupi menjelaskan bahwa pemerintah Singapura menjamin ketersediaan makanan dan kebutuhan pokok sehari-hari untuk seluruh masyarakat di Singapura.

“Selain itu, kepanikan justru akan membuat situasi lebih buruk. Cukup hadapi dengan tenang dan jalani hidup seperti biasa, hanya lebih berhati-hati saja,” kata dia.

Lupi mengaku tidak mengenakan masker saat di luar ruangan, , kecuali saya sakit atau ke tempat yang beresiko tinggi untuk penularan, seperti mengunjungi rumah sakit.

“Menurut anjuran kementrian kesehatan Singapura, masker digunakan untuk mencegah penularan dari orang yg sakit ke orang yang sehat. Jika kita sehat, kita tidak perlu menggunakan masker,” kata Lupi yang menggunakan transportasi umum setiap hari.

Ia melanjutkan, “Sebagai pencegahan, kami selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, dan tidak menyentuh muka dengan tangan yang kotor.”

Singapura menjadi salah satu negara yang melaporkan bahwa virus korona yang kini bernama resmi COVID-2019, telah menular antarmanusia. Salah satunya adalah seorang perempuan pekerja migran Indonesia berusia 44 tahun, yang tidak pernah ke China. Ia tertular melalui majikannya.

Menanggapi virus korona yang bisa menyebar antarmanusia, Lupi juga merasa khawatir, namun dia mencegah penyebaran virus korona, salah satunya dengan mengurangi bepergian seperlunya.

“Ketakutan [tertular] pasti ada, tapi cara terbaik untuk mencegah adalah dengan menerapkan kebersihan diri dan meningkatkan daya tahan tubuh,” ujarnya.

Ia menceritakan sebagian besar kantor di Singapura sudah menerapkan sistem BCP(Business Continuity Plan) sejak pemerintah mengumumkan level DORSCON oranye.

“BCP itu misalnya dengan kebijakan pengambilan temperatur dua kali per hari, atau seperti kantor saya diberlakukan sistem Work-from-Home. Kebijakan ini sangat membantu untuk mengurangi resiko penularan virus,” tutur Lupi.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini