nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekspor-Impor di Sulut Belum Terpengaruh Virus Korona

Subhan Sabu, Jurnalis · Kamis 20 Februari 2020 17:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 20 340 2171597 ekpor-impor-di-sulut-belum-terpengaruh-virus-korona-Jx0QxbTBEb.jpg Kadisperindag Sulut Edwin Kindagen (Okezone.com/Subhan)

MANADO - Keputusan Kementerian Perdagangan untuk menutup sementara impor produk makanan dan minuman dari China akibat wabah virus korona atau Covid-19, belum berdampak signifikan di Sulawesi Utara (Sulut).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Edwin Kindangen mengatakan, yang berpengaruh terhadap dihentikannya impor dari China bagi masyarakat Sulut hanya bawang putih saja di mana harganya sempat naik.

Bawang putih Indonesia disuplai dari China sehingga menimbulkan kekhawatiran, walaupun sebenarnya sesuai hasil penelitian, media pembawa virus korona bukanlah dari tanaman bawang.

"Di Sulawesi Utara sendiri kondisi bawang putih tidak langka, barang ada, bahkan beberapa hari terakhir harganya sudah turun, memang ada lonjakan harga tapi barang tersedia," kata Edwin Kindagen kepada Okezone, Kamis (20/2/2020).Ilustrasi

"Dampak dari virus korona untuk perdagangan di Sulawesi Utara secara prinsip tidak ada," tambahnya.

Ekspor

Disperindag juga memastikan pembatasan ekspor ke China akibat wabah virus korona juga tak berpengaruh ke Sulut, karena volume ekspor komoditas dari Sulut ke China tidak begitu signifikan.

Ekspor komoditas dari Sulut kebanyakan ke Eropa, Jepang dan Korea Selatan.

Kabid Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulut, Darwin Muksin mengatakan, saat ini ada lonjakan ekspor minyak kelapa kasar dari Sulut ke Belanda.

"Untuk China sementara ini belum ada ekspor ke sana karena dibatasi sejak mulai munculnya wabah virus korona," kata Darwin.

Pada 2019, Sulut mengekspor tepung ke China sebanyak 1,667,566.29 Kg yang nilainya mencapai USD2,033,482.79. Kemudian semen 250,863,423.00 Kg dengan nilai USD9,045,660.80, biji pala 78,004.00 Kg dengan nilai USD357,621.20, dan lobster sebanyak 386.25 Kg dengan nilai USD4,171.09.

"Januari 2020, Sulut masih mengekspor produk turunan kelapa yakni santan beku ke China sebanyak dua kontainer," lanjut Darwin

Santan beku yang diekspor ke China dengan volume 48 ton mampu menghasilkan devisa 35.800 dolar AS. Angka ini berdasarkan pada data kegiatan ekspor ini sebagaimana tertera dalam Surat keterangan Asal (SKA) yang diterbitkan Disperindag Sulut.

Satu tahun terakhir ini permintaan santan beku dari China ke Sulut semakin tinggi, meski awalnya sempat terhenti akan tetapi pada tahun 2019 kembali berjalan.

Ia mengharapkan ekspor santan beku makin meningkat. Tidak hanya ke China, namun juga ke negara lain dan hal ini akan menambah kuantitas produksi produk turunan kelapa.

"Untuk sementara karena panik buying aja jadi pemerintah menahan untuk melihat reaksinya apakah berdampak pada ekspor atau manusianya atau barang-barang tertentu," pungkas Darwin

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini