Hal sama juga terjadi di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT. Wabah DBD di sana rata-rata didominasi anak. Bahkan data terakhir yang diterima Okezone pada 12 Maret 2020, dari 1.255 penderita dengan 14 kematian itu ada sebanyak 101 dirawat intensif.
Kemudian dari jumlah 101 tersebut, 80 di antaranya adalah anak-anak. Meski demikian, penanganan medis terus dilakukan demi penyelamatan para penderita DBD.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Helermus mengatakan seluruh tim medis melakukan penanganan sesuai prosedur yang ada dan fokus penyelamatan para pasien.
Ia mengungkapkan, ketersediaan obat-obatan juga cukup untuk penanganan para pasien. "Kita fokus dalam penanganan demi penyelematan para pasien," ucapnya.
Sementara Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan NTT Erlina R Salmun menyebut jumlah kasus DBD di sana mencapai 3.284 dengan 39 kematian.
Terdapat kenaikan dari data sebelumnya pada 11 Maret yang berada di angka 3.222. Bahkan terjadi penambahan jumlah kematian 1 orang menjadi 39 dari sebelumnya 38.
Ia mengatakan, kondisi ini tentunya butuh kerja sama dan peran serta masyarakat untuk menjaga kebersihan tempat tinggal masing-masing. Aksi pembersihan sarang nyamuk (PSN) harus diutamakan demi memutus rantai pembiakan nyamuk aedes aegypti.
Menguras, menutup, dan mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi sarang pembiakan nyamuk pembawa virus dengue itu harus serius dilakukan. "Karena itulah langkah yang dinilai efektif selain langkah lain melalui fogging," katanya.
(Hantoro)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.