Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Presiden Jokowi Serukan Tes Cepat dan Massal, Indonesia Bisa Contoh Korea Selatan

Rachmat Fahzry , Jurnalis-Kamis, 19 Maret 2020 |18:36 WIB
Presiden Jokowi Serukan Tes Cepat dan Massal, Indonesia Bisa Contoh Korea Selatan
Warga Korea Selatan uji tes corona melalui bilik. (Foto/AFP)
A
A
A

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Kamis 18 Maret menyerukan agar tes virus corona dilakukan secara cepat dan massal guna mencegah penyebaran Covid-19.

"Perbanyak tempat-tempat untuk melakukan tes dan melibatkan rumah sakit baik pemerintah, milik BUMN, pemda, rumah sakit milik TNI, Polri dan swasta dan lembaga riset, dan perguruan tinggi yang mendapatkan rekomendasi Kemenkes," kata Jokowi.

Data terbaru Kementerian Kesehatan, kasus baru positif virus corona di Indonesia bertambah 82 kasus, sehingga total kasus positif Covid-19 menjadi 309. Sedangkan kasus kematian 25 dan sembuh 15 orang.

Merujuk data WHO, secara global, Covid-19 telah menjangkiti lebih dari 190.000 dan menewaskan hampir 8.000 orang.

Foto/Okezone

Pusat virus kini berpindah dari China ke Eropa, di mana Italia menjadi pusat wabah, dengan laporan lebih 300 kematian setiap hari.

Namun di Korea Selatan, yang pernah menjadi negara dengan wabah terburuk di luar China, kasus virus corona mulai menurun.

Sejumlah warga antre di apotek untuk membeli masker yang dijatah pemerintah setiap minggu dan banyak dari mereka yang bekerja dari rumah, tetapi bisnis tetap berjalan dan pemerintah tidak menerapkan penutupan atau lockdown secara nasional.

Bahkan, Korea Selatan memiliki salah satu tingkat korban terendah Covid-19 di dunia, hanya 1 persen.

Baca juga: Angka Kematian Akibat Corona Mencapai 8%

Baca juga: Filipina Larang Masuk Warga Asing dari Semua Negara untuk Hentikan Penyebaran COVID-19

Sedangkan tingkat kematian kasus Covid-19 di Indonesia tetinggi di kawasan ASEAN. Berbeda jauh dengan dengan Malaysia, yang melaporkan 900 kasus positif corona dan 2 kematian.

"Korea Selatan benar-benar membedakan dirinya karena mampu mengungkapkan informasi secara transparan dan memerangi virus," kata Hwang Seung-sik, seorang ahli epidemiologi dan profesor di Seoul National University mengutip Al Jazeera.

"Kami melakukan yang terbaik untuk mengeksplorasi sumber daya dan kami bekerja keras untuk menguji orang secara massal dan melakukan karantina. Tetapi virus corona sudah ada sekitar tiga bulan dari sekarang, dan tidak begitu jelas persiapan apa yang telah dilakukan AS atau negara-negara Eropa lainnya," lanjut dia.

Cepat bertindak

Wabah virus corona di Korsel bermula pada 18 Februari, ketika negara itu mengonfirmasi pasien ke-31 Covid-19.

Foto/Yonhap News

Pasien tersebut merupakan seorang wanita paruh baya yang mengikuti ibadah sekte agama Shincheonji Yesus. Pasien itu kemudian menyebarkan virus corona kepada sesama anggota sekte tersebut di Kota Daegu.

Tiba-tiba, kasus virus corona di Korsel melonjak 180 kali lipat dalam rentang dua minggu. Pada puncaknya, para ahli medis mendiagnosis ada lebih dari 900 kasus baru sehari, menjadikan Korea Selatan wabah terbesar kedua di dunia.

Sekarang, tingkat pertumbuhan di Korsel telah melambat secara signifikan.

"Kami memang berhasil menurunkan angka kasus baru yang dikonfirmasikan menjadi kurang dari 100 per hari. Ini adalah pencapaian besar, tapi kami belum bisa merayakannya," kata Hwang.

"Ini bisa menjadi ilusi yang bisa membodohi kita untuk percaya bahwa wabah telah berakhir," lanjut dia.

Lebih dari 8.500 orang telah didiagnosis mengidap virus corona di Korea Selatan pada 19 Maret, dan hampir tiga perempat dari kasus tersebut terkonsentrasi di Daegu.

Sedangkan secara global, merujuk data WHO, Covid-19 telah menjangkiti lebih dari 190.000 dan menewaskan hampir 8.000 orang.

Hampir 3.000 orang telah meninggal di Italia, 1.135 di Iran dan 638 di Spanyol. Bahkan korban meninggal di AS telah melampaui korban di Korea Selatan.

Meski begitu, para ahli medis Korsel mengingatkan agar tidak terlalu percaya diri.

"Sulit untuk mengatakan bahwa pemerintah Korea Selatan telah berhasil mengendalikan virus corona," kata Roh Kyoung-ho, seorang dokter yang bekerja di Departemen Kedokteran Laboratorium di Layanan Asuransi Kesehatan Nasional Rumah Sakit Ilsan.

Tes massal

Namun demikian, keberhasilan Korea Selatan dalam mengendalikan epidemi mendapat pujian dari seluruh dunia.

Foto/Okezone

Ketika para ilmuwan China pertama kali mempublikasikan urutan genetik virus Covid-19 pada Januari, setidaknya empat perusahaan Korea Selatan secara diam-diam mulai mengembangkan dan menimbun alat tes bersama pemerintah, jauh sebelum negara itu mengalami wabah pertama.

Pada saat keadaan memburuk, negara tersebut memiliki kemampuan untuk menguji lebih dari 10.000 orang per hari, termasuk memperkenalkan pengujian drive-thru darurat dan bilik telepon di rumah sakit.

Siapa pun yang memiliki ponsel di negara itu juga menerima peringatan mengenai riwayat perjalanan pasien yang terinfeksi virus corona. Sehingga warga dapat menghindari area yang terpapar virus.

Pada saat yang sama, pemerintah Korea Selatan juga membuat aplikasi berkemampuan GPS untuk memantau mereka yang dikarantina dan membunyikan alarm jika mereka kabur.

Wisatawan yang memasuki negara tersebut juga diminta untuk mencatat gejala mereka pada aplikasi yang disponsori negara.

Tidak seperti negara lain, Korea Selatan juga berhasil membalikkan wabah tanpa menutup kota (lockdown) atau melarang perjalanan. Bahkan, istilah jarak sosial (sosial distance) pertama kali digagas Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat kampanye melawan virus.

"Karena Korea memiliki kemampuan untuk mengambil sampel dan menguji lebih cepat daripada di negara lain, tidak ada alasan untuk melakukan apa yang dilakukan negara lain [dan lockdown]," kata Dr. Roh.

"Metode menutup daerah-daerah tertentu dan menghentikan pergerakan dilakukan orang-orang di Abad Pertengahan ketika mereka berurusan dengan wabah Black Death. Hal itu karena mereka tidak tahu apa yang menyebabkan infeksi pada saat itu, dan mereka tidak tahu di mana penyakit itu menyebar," tuturnya.

Setidaknya 15 perusahaan Korea Selatan berlomba untuk mengembangkan vaksin dan perawatan lain untuk Covid-19. Beberapa berusaha mengembangkan kit pengujian untuk digunakan orang di rumah.

Hwang memperkirakan baru sekitar paruh kedua 2021 vaksin akan tersedia untuk umum.

"Kita harus tetap fokus pada perjuangan kita melawan krisis ini sampai saat itu," katanya.

(Rachmat Fahzry)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement