MUMBAI - Shaikh Bahaduresha (31) yang tinggal di Mumbai selama dua bulan pada tahun lalu, tidak dapat memenuhi kebutuhannya dari sopir taksi yang hanya kurang lebih 5 dolar AS sehari (sekira RP).
Setelah menikah pada Desember tahun lalu, istrinya menyewa satu kontrakan kecil dan mereka pun pindah ke sana.
Namun, sebagian besar di wilayah India saat ini sedang dikarantina untuk menekan penyebaran virus corona atau Covid-19. Hal itu juga terdampak pada kehidupan Bahaduresha.
Baca juga: Hadapi Wabah Corona, Thailand Umumkan Satu Bulan Mode Darurat pada 26 Maret
Baca juga: Pakar Kesehatan Australia Peringatkan Lonjakan Kasus Virus Corona di Indonesia
Dia sudah sangat jarang mendapat penumpang. Artinya dia tidak akan mampu membeli makanan selain beras, dan tidak akan mampu membayar sewa kontrakan yang akan jatuh tempo.
"Aku tidak punya tabungan. Aku dan istriku akan kembali ke jalanan lagi," kata Bahaduresha menyitir Reutes, Selasa (24/3/2020).
"Amerika Serikat adalah negara VIP [kaya], kau bisa mengarantina AS selama sebulan dan tetap baik-baik saja, tetapi di India kau harus memikirkan orang-orang miskin," lanjut dia.
Perdana Menteri Narendra Modi mendesak 1,3 miliar warga India untuk tinggal di rumah saat sebagian besar wilayah di negara itu dikarantina. Pada Senin, 23 Maret, India melaporkan 471 kasus Covid-19 dan sembilan kematian.
Kumpulan orang India yang tinggal di perkampungan kumuh Dharavi di Mumbai mengatakan, mereka mendukung langkah karantina itu, tetapi mereka juga butuh dukungan dari pemerintah.
Bencana kesehatan memperlihatkan sangat sulitnya negara-negara untuk mengatasi wabah virus tanpa merusak mata pencaharian. Apalagi di negara-negara berkembang dengan populasi besar yang standar hidupnya pas-pasan.
"Sejauh ini, intervensi perdana menteri telah menempatkan tanggung jawab pada warganya, tetapi langkah intervensi itu tidak menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh negara," kata Gilles Verniers, seorang profesor ilmu politik di Universitas Ashoka dekat New Delhi. .
"Tidak ada [dari intervensi itu] yang tampak seperti suatu rencana nasional di bidang sosial," ujarnya.
Beberapa pasar di dekat permukiman kumuh ditutup dan para penjual yang masih menjual sayuran di trotoar mengatakan bahwa penyalur mereka tidak lagi memasok persediaan.
Penduduk Dharavi mengatakan bahwa mereka menghemat makanan dan hidup tanpa makanan mahal seperti daging kambing.
Khatun (70) menangis di tempat tidurnya ketika ia menceritakan bahwa putranya yang bekerja membuat lukisan acak tidak memiliki pekerjaan lagi.
Ajay Kewat (21), mengatakan bahwa keluarganya hanya memiliki persediaan untuk beberapa hari lagi. "Saya khawatir bahwa setelah seminggu, tidak akan ada makanan lagi," katanya.
(Rachmat Fahzry)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.